Logo Bloomberg Technoz

RKAB Dipangkas, Harga Nikel Tertahan Lonjakan Impor dari Filipina

Azura Yumna Ramadani Purnama
15 July 2026 13:10

Fasilitas pelabuhan Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian
Fasilitas pelabuhan Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Indef Green Transition Initiative (GTI) menilai lonjakan impor bijih Filipina berpotensi meredam dampak pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 terhadap harga nikel global.

Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF GTI Andry Satrio Nugroho menilai pasokan tambahan dari negara tersebut mampu menutup sebagian besar kekurangan bijih di Indonesia, sehingga pengurangan produksi yang diharapkan dapat mengerek harga nikel menjadi kurang efektif.

Andry memperkirakan kenaikan impor bijih dari Filipina menjadi 30 juta ton pada 2026, atau bertambah sekitar 15 juta ton dibandingkan dengan realisasi 2025, dapat menghasilkan tambahan suplai sekitar 122.000 ton nikel. 


Besaran tersebut, kata Andry, setara dengan sekitar 74% dari target pengurangan pasokan global sebanyak 165.000 ton yang ingin dicapai Indonesia melalui kebijakan pengendalian produksi.

Adapun, perhitungan tersebut dilakukan dengan mengacu pada produksi bijih nikel domestik sekitar 260 juta ton dengan kadar rata-rata 1,4% yang menghasilkan 3,64 juta ton nikel terkandung.