Selain faktor keselamatan, Niti juga menyoroti pentingnya keterjangkauan harga dan kemudahan akses bagi masyarakat luas.
Dia meminta nilai keekonomian CNG disesuaikan dengan daya beli masyarakat agar tidak menjadi beban baru.
"Kalau bisa lebih murah [dari LPG 3 kg] akan sangat bagus, tetapi paling tidak setara. Jangan sampai harganya melampaui harga LPG yang sekarang," tambahnya.
Senada dengan YLKI, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi mengingatkan pemerintah untuk berkaca pada sejarah kelam migrasi minyak tanah ke LPG 3 kg beberapa tahun silam.
Pada awal pemberlakuan kebijakan tersebut, minimnya mitigasi memicu rentetan kasus ledakan gas yang menelan korban jiwa.
"Pemerintah harus sangat hati-hati, harus memastikan bahwa secara fisik tabungnya aman, dan harus ada upaya mitigasi jika terjadi kecelakaan. Jangan sampai seperti kasus LPG 3 kg di awal pemberlakuan, banyak kasus ledakan gas yang menewaskan puluhan orang," kata Tulus saat dihubungi, Senin (6/7/2026).
Untuk itu, Tulus menuntut adanya uji coba serta sosialisasi masif dan intensif. Tujuannya agar calon konsumen benar-benar memahami cara penggunaan yang aman sekaligus tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi keadaan darurat.
Di sisi lain, FKBI juga mengingatkan dampak makroekonomi jika komponen infrastruktur CNG harus bergantung pada komoditas impor.
Tulus menyarankan pemerintah menggenjot industri manufaktur lokal untuk memproduksi tabung CNG secara mandiri.
"Idealnya industri dalam negeri juga didorong membuat tabung CNG, sehingga tidak harus impor. Dengan impor yang masif tabung CNG, akhirnya devisa tergerus," jelasnya.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) diketahui telah menguji coba tabung gas alam terkompresi atau CNG 3 kg atau CNG Merah Putih.
Berdasarkan unggahan resmi Lemigas, tabung CNG 3 kg terlihat memiliki bentuk silinder dengan bagian bawah datar.
Pada bagian atas tabung, terlihat terdapat pegangan tangan atau hand guard berwarna merah yang menyatu dengan badan tabung.
Badan tabung memiliki warna putih dengan sejumlah lubang ventilasi berpola sarang lebah pada sisi samping. Lubang tersebut mengindikasikan adanya casing luar pada bagian tabung tersebut.
Lalu, katup atau valve dari tabung tersebut terlihat memiliki perbedaan mencolok dibandingkan dengan katup LPG 3 kg. Kendati begitu, belum diketahui spesifikasi dari katup tabung CNG 3 kg.
Diameter atau ukuran dari tabung CNG 3 kg tersebut belum dipublikasikan oleh Lemigas. Namun, tabung berukuran 3 kg tersebut terlihat cukup mudah untuk diangkat atau dibawa masyarakat.
Jika dibandingkan dengan tabung LPG 3 kg atau Gas Melon, tabung CNG 3 kg memiliki desain yang berbeda.
Pada tabung LPG 3 kg, struktur terdiri atas pegangan tangan atau hand guard, cincin leher atau neck ring, badan tabung berbahan baja, dan cincin kaki atau foot ring.
Adapun, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman sempat meninjau langsung fasilitas pengujian tabung yang berada di laboratorium Koordinator Pengujian Pengolahan Gas Bumi Lemigas.
Selain Laode, kunjungan tersebut turut dihadiri perwakilan dari PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN, PT Pertamina Patra Niaga, PT Gagas Energi Indonesia, PT Pindad, serta PT Genko.
Dalam kesempatan sebelumnya, Laode sempat mengungkapkan CNG Merah Putih bakal menggunakan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit serta fiberglass.
Laode juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.
Dia memastikan masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.
“Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti itu. Nah, itulah yang sekarang makanya Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan, kemudian uji tekan, dan lain-lain ini memang faktor yang paling penting,” kata Laode dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).
Laode juga menyebut Kementerian ESDM akan mengimpor 100.000 unit tabung CNG 3 kg dari China. Langkah tersebut dilakukan lantaran industri dalam negeri belum mampu memproduksi tabung CNG 3 kg.
"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (18/5/2026).
"Iya [impor dari China], seperti itu tahap awal ya," tambahnya.
(smr/wdh)






























