Logo Bloomberg Technoz

SMM juga mencatat Indonesia mengimpor sekitar 1,23 juta ton sulfur pada Januari hingga April 2026. Sementara itu, pada Mei 2026, impor sulfur diproyeksi mencapai 350.000 ton yang mencerminkan permintaan masih cukup kuat meski harga sedang tinggi.

SMM mencatat impor sulfur Indonesia berasal dari negara-negara Timur Tengah, antara lain; Oman, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar.

Untuk memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia mengimpor sekitar 75% sulfur dari luar negeri.

Ekspor sulfur Timur Tengah ke Indonesia./dok. BMI

“Impor sangat terkonsentrasi di Weda Bay, Pulau OBI, dan Morowali — pelabuhan utama yang melayani pabrik HPAL milik Tsingshan, Huayou, dan Lygend,” tulis SMM.

SMM turut mencatat impor asam sulfat sepanjang Januari—Mei 2026 mencapai 449.000 ton, atau mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut dinilai memandanakan smelter HPAL mulai beralih ke asam sulfat sebagai alternatif di tengah ketatnya pasokan sulfur.

“Sumber utama berasal dari Korea Selatan dan Jepang, sejalan dengan arus perdagangan asam sulfat Asia-Pasifik yang dipantau oleh SMM CFR Indonesia Sulphuric Acid,” ungkap SMM.

Adapun, kenaikan harga sulfur dipengaruhi oleh penutupan Selat Hormuz yang dilakukan sejak perang antara Iran–Amerika Serikat (AS) pecah.

Sekitar 25% produksi sulfur global dipasok dari negara Timur Tengah dan 45% perdagangan sulfur melalui jalur tersebut.

Selama masa blokade, SMM memperkirakan terdapat 800.000 hingga 1 juta metrik ton kargo sulfur menumpuk di Teluk Persia.

Selama periode perang tiga setengah bulan, total pengiriman sulfur hanya mencapai 80.000 metrik ton.

Usai kembali dibukanya Hormuz, SMM mencatat sekitar 640.000 metrik ton sulfur telah keluar melalui selat tersebut.

Akan tetapi, SMM memprediksi pemulihan penuh pasokan sulfur membutuhkan waktu, bahkan diprediksi belum terjadi sebelum Agustus 2026.

“Sebagian besar kargo yang saat ini bergerak merupakan kontrak penjualan lama, sementara belum ada kapal kosong yang kembali untuk memuat kargo baru. Diperkirakan 300.000—400.000 mt sulfur masih terdampar di selat tersebut,” tegas SMM.

Sekadar catatan, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengatakan para pelaku usaha hilirisasi nikel telah mulai melakukan diversifikasi impor mengatasi ketatnya pasokan sulfurglobal imbas konflik di Timur Tengah.

“Ada beberapa negara [diversifikasi]. Ada Kanada, Amerika, dan Korea,” ungkap Ketua FINI Arif Perdana Kusumah kepada awak media dalam agenda Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Negara-negara tersebut, kata Arif, dipilih karena memiliki industri pengolahan minyak bumi dengan teknologi tinggi. Seperti diketahui, sulfur merupakan produk sampingan (by-product) dari proses penyulingan minyak bumi.

Sulfat komersial seringkali berbentuk cair, berbeda dengan sulfur yang umumnya berbentuk bubuk (powder) atau bongkahan padat, sehingga mudah diangkut.

"Mereka impor dalam bentuk sulfat, tapi kan itu tidak mudah karena bentuknya cair. Dari sisi logistics arrangement kemudian kesulitan pengangkutan itu lebih besar dibanding sulfur," jelas Arif.

Dalam kesempatan terpisah, Arif mengungkapkan gejolak yang sempat terjadi di Timur Tengah memberikan dampak langsung terhadap struktur biaya produksi industri smelter nikel.

Saat ini, Arif menyatakan, kenaikan harga energi membuat biaya operasional industri pengolahan dan pemurnian nikel meningkat.

Arif mengatakan industri smelter nikel hidrometalurgi di Indonesia bergantung terhadap sulfur yang diimpor dari Timur Tengah.

Saat ini, kata dia, komponen biaya sulfur untuk operasional smelter nikel hidrometalurgi berbasis HPAL telah naik menjadi 30%—35%, dari sebelumnya sekitar 25%.

(azr/wdh)

No more pages