Negosiasi yang masih berlangsung membuat Netanyahu frustrasi, yang sejak lama mendorong pendekatan lebih agresif terhadap Teheran. Netanyahu menilai penundaan hanya menguntungkan Iran, menurut pejabat pemerintahan Trump dan sumber Israel.
Pejabat AS itu mengatakan Netanyahu menyampaikan langsung kekecewaannya kepada Trump pada Selasa. Ia meyakini penundaan serangan yang direncanakan merupakan sebuah kesalahan dan mendesak agar presiden AS tetap melanjutkan rencana tersebut.
Dalam percakapan selama satu jam, Netanyahu terus mendorong dimulainya kembali aksi militer, kata seorang sumber Israel yang mengetahui pembicaraan tersebut. Perbedaan sikap pun terlihat jelas: Trump ingin melihat apakah kesepakatan masih bisa dicapai, sementara Netanyahu mengharapkan langkah lain, ujar seorang pejabat Israel.
Axios menjadi media pertama yang melaporkan percakapan telepon tegang tersebut.
Kekhawatiran Israel setelah percakapan telepon Selasa itu juga meluas ke lingkaran pejabat di sekitar Netanyahu, kata sumber. Menurut sumber itu, terdapat keinginan kuat di tingkat tertinggi pemerintahan Israel untuk kembali melancarkan aksi militer, disertai frustrasi yang semakin besar terhadap keputusan Trump yang dinilai terus memberi ruang bagi apa yang mereka sebut sebagai upaya Iran memperlambat proses diplomasi.
Namun, frustrasi Netanyahu terhadap pendekatan AS—khususnya gaya Trump yang kerap melontarkan ancaman tetapi kemudian menunda tindakan—bukanlah hal baru, menurut sejumlah sumber yang mengetahui komunikasi keduanya. Pejabat AS sebelumnya juga mengakui adanya perbedaan tujuan antara Washington dan Tel Aviv terkait perang tersebut.
Saat ditanya apa yang ia sampaikan kepada Netanyahu malam sebelumnya, Trump pada Rabu memberi isyarat bahwa dirinya yang memegang kendali.
“Dia akan melakukan apa pun yang saya ingin dia lakukan,” kata presiden AS itu.
Meski mendapat tekanan dari Netanyahu untuk kembali ke operasi militer aktif, Trump untuk sementara tetap mendorong penyelesaian diplomatik. Ia mengklaim pada Rabu bahwa situasi dengan Iran berada “di ambang batas” dan masih layak diberi waktu beberapa hari lagi untuk diplomasi jika hal itu bisa menyelamatkan nyawa.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada Rabu bahwa Teheran dan Washington masih terus bertukar pesan melalui Pakistan.
Meski demikian, belum jelas apakah kesenjangan utama antara kedua pihak mulai menyempit. Iran disebut belum mundur dari tuntutan utamanya, sementara isu terkait program nuklir dan aset-aset Iran yang dibekukan masih belum terselesaikan hingga awal pekan ini, menurut seorang sumber regional.
Di sisi lain, Trump terus menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka.
“Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berlangsung sangat cepat. Kami semua siap bergerak,” ujarnya pada Rabu.
(del)































