Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, Fakhrul mengatakan BI perlu menggunakan pendekatan stabilisasi klasik yang pernah diterapkan saat menghadapi tekanan eksternal pada periode sebelumnya, yakni pre-emptive, front loading, dan ahead the curve. Dalam konteks saat ini, langkah tersebut menurutnya kemungkinan membutuhkan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin.

Keputusan ini juga sepertinya menunjukkan bahwa Bank Indonesia selaku otoritas moneter mulai menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama di tengah meningkatnya volatilitas global.

Pasar membaca kebijakan tersebut sebagai sinyal kuat bahwa otoritas moneter tidak akan membiarkan pelemahan rupiah berlangsung terlalu dalam. Selama ini, kekhawatiran investor bukan hanya soal depresiasi mata uang, tetapi juga risiko bahwa keterlambatan respons kebijakan dapat memperbesar capital outflow dan memperburuk tekanan di pasar obligasi domestik.

Hal ini cukup logis jika melihat tekanan eksternal yang masih tinggi. Yield US Treasury bertahan di level tinggi, harga minyak dunia masih rentan naik akibat tensi geopolitik Timur Tengah, sementara dolar AS terus menguat terhadap mayoritas mata uang emerging markets. 

(dsp/aji)

No more pages