Produk Teknologi Kena Efek Kurs Rupiah Jebol, Harga RAM Naik 150%
Merinda Faradianti
19 May 2026 14:32

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional atau APTIKNAS, Fanky Christian, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS mulai memberikan tekanan signifikan terhadap harga berbagai perangkat dan komponen teknologi informasi di Indonesia.
Pasalnya, industri TIK nasional masih sangat bergantung pada impor dan transaksi berbasis dolar AS, mulai dari laptop, server, perangkat jaringan, hingga komponen pendukung lainnya.
“Ketika nilai tukar rupiah melemah, otomatis biaya pengadaan meningkat, baik untuk distributor, sistem integrator, maupun reseller. Dampaknya tidak hanya pada harga jual produk, tetapi juga pada cash flow dan perencanaan bisnis perusahaan TIK di Indonesia,” kata Fanky pada Bloomberg Technoz, Selasa (19/5/2026).
APTIKNAS mencatat terdapat kenaikan harga di berbagai kategori produk teknologi. Data kuartal kedua tahun ini memperlihatkan bahwa komponen RAM DDR4 dan DDR5 menjadi yang paling terdampak dengan kenaikan mencapai 40% hingga 150%.
Sementara itu, Rerata kenaikan harga SSD SATA dan NVMe tercatat sekitar 30% hingga 120%. Perangakat VGA atau GPU juga sebesar 10% hingga 35%. Motherboard juga dibanderol lebih mahal antara 8% hingga 20%.
Unit prosesor merek Intel dan AMD juga mengalami lonjakan harga sekitar 5% hingga 15%, dikutip dari data APTIKNAS.
Sementara itu untuk perangkat lain seperti Power Supply Unit atau PSU dan casing mencatatkan lompatan harga 5% hingga 12%. Tak ketinggalan, harga laptop meningkat 10% hingga 25%. Pada bagian lain, server enterprise dihargai 15% hingga 40%. lebih mahal
Fanky menilai bahwa tekanan kurs saat ini berpotensi kembali mendorong kenaikan harga perangkat teknologi setelah sebelumnya sempat membaik pasca meredanya krisis chip global.
“Produk seperti server, enterprise networking, storage, dan laptop premium sangat sensitif terhadap kurs dolar. Jika pelemahan rupiah berlangsung cukup lama, maka kemungkinan besar akan ada penyesuaian harga bertahap di pasar,” ujarnya.
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat terus mengalami tekanan dalam sepekan terakhir. Pada 12 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp17.520 per dolar AS. Tekanan berlanjut pada perdagangan 15–18 Mei 2026 dengan rupiah bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.666 per dolar AS.
Bank Indonesia mencatat rupiah menyentuh rekor terlemah baru di level Rp17.666 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Sementara pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026), rupiah kembali melemah di kisaran Rp17.679 hingga Rp17.717 per dolar AS berdasarkan data pasar dan Bloomberg.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin malam menegaskan bahwa kondisi pelemahan rupiah tidak mencerminkan ekonomi domestik yang ia klaim stabil. Pelemahan rupiah tahun ini disebut Purbaya berbeda dengan periode 1998.
Meski demikian Purbaya mengaku bahwa demi menjaga stabilitas rupiah, pemerintah secara bertahap membeli surat utang di pasar. Targetnya adalah membelanjakan uang negara Rp2 trilun per hari.
“Kalau sentimen positif, biasanya asing juga ikut masuk dan rupiah cenderung terkendali karena uangnya nggak keluar lagi,” tegas Purbaya.





























