Denyut Usaha Keripik Tempe di Gang Sempit Jakarta
Andrean Kristianto
20 May 2026 15:32
Bloomberg Technoz, Jakarta - Gang sempit di Jalan Aom, RT 9 RW 8, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu menyimpan denyut usaha rumahan yang terus hidup.
Dari lorong yang hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, aroma keripik tempe menguar dari rumah-rumah warga yang sebagian besar berprofesi sebagai perajin.
Baca Juga
Plang berwarna biru bertuliskan “Paguyuban Pengrajin Keripik Tempe Kramat Pela” menjadi penanda kawasan tersebut. Di balik gang kecil itu, puluhan perajin tempe menjalankan usaha yang kini dikenal hingga mancanegara.
Salah satu pelopor usaha keripik tempe di kawasan itu ialah Keripik Mama Tina milik Martinah (65). Usaha yang dirintisnya sejak 2010 perlahan menginspirasi warga lain untuk ikut memproduksi keripik tempe.
“Kampung tempe itu dulu yang jualan tempe balok semua, ada 30 orang (perajin) tempe balok itu, semenjak aku terus produksi ini tahun 2010, aku gorengnya kan di luar, kalau pagi itu orang udah pada ngeliatin, akhirnya pada bikin masing-masing,” ungkap Martinah kepada Bloomberg Technoz, Selasa (19/6/2026).
Mayoritas perajin tempe di gang tersebut berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Mereka dapat memproduksi ratusan kilogram kripik tempe dalam seharinya
Hasil produksi dari gang kecil di Kramat Pela itu kini telah menembus pasar luar negeri. Martinah mengatakan keripik tempenya dikirim ke sejumlah negara di Asia hingga Timur Tengah.
“Ke Thailand, Malaysia, Dubai,” kata Martinah.
Perjalanan usaha para perajin tak selalu berjalan mulus. Kenaikan harga bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, dan plastik kemasan menjadi tantangan yang harus dihadapi sehingga memengaruhi harga jual produk.
“Apa-apa mahal semua jadi saya naikin pas puasa, karena plastik mahal, minyak mahal, kedelai juga mahal, sebelum puasa Rp75 ribu jadi Rp80 ribu per kilogram,” kata Martinah.
(dre)























