Wamenkeu Tegaskan Fiskal RI Tetap Disiplin dan Terukur
Redaksi
20 May 2026 13:48
Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Keuangan memastikan akan mengelola anggaran belanja negara secara efektif dan efisien demi menjaga disiplin fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terjadi saat ini.
"Di tengah ketidakpastian global, arah fiskal adalah mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat namun tetap dengan menjaga fiskal disiplin," ujar Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam acara POV Talks Bloomberg Technoz, Senin (18/5/2026).
Dari sisi global, dia mengakui terdapat risiko besar berupa kenaikan harga minyak dunia. Hal ini berimplikasi besar terhadap kondisi fiskal Tanah Air.
Dia menggambarkan, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$1 akan menciptakan defisit anggaran terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp6,8 triliun. Artinya, ketika harga minyak dunia tembus US$100/barel atau US$30 melebihi harga dalam asumsi makro yang hanya US$70/barel, maka defisit anggaran akan mencapai Rp204 triliun.
"Kalau kita tidak melakukan berbagai upaya, maka defisit fiskal bisa di atas (batas) 3% terhadap PDB. Maka itu, pemerintah dan Kemenkeu melakukan berbagai upaya," jelas Juda.
Menurut dia, pemerintah tetap menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi Pertalite agar daya beli masyarakat tak semakin terpuruk, sehingga inflasi tetap terjaga. Konsekuensinya, pemerintah harus mengurangi belanja negara yang tidak berkualitas dan tidak efisien.
"Termasuk Program Makan Bergizi Gratis sekarang cuma lima hari sepekan, dari enam hari sepekan. pengurangan satu hari itu menghemat sekitar Rp1 triliun. Sekarang tak ada pembagian MBG saat hari libur sekolah. Ada juga pengurangan anggaran belanja penunjang MBG yang tak krusial," tegas Juda.
Dengan demikian, pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran tak lebih dari 3% terhadap PDB, tepatnya 2,94% terhadap PDB.
"Seringkali fiskal dianggap punya risiko besar. tapi so far so good bisa menjaga disiplin fiskal. Intinya, negara belanja yang prioritas dan menjaga daya beli masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Juda menegaskan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada April 2026 terjaga, dengan posisi defisit anggaran yang menurun terhadap PDB dibanding bulan sebelumnya.
(red)





















