Logo Bloomberg Technoz

BI Yakin Rupiah Bakal Balik Menguat, Rerata Level Rp16.500/US$

Mis Fransiska Dewi
18 May 2026 19:20

Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal kembali menguat dengan rata-rata di angka Rp16.500/US$. Angka tersebut merupakan keputusan politik yang telah ditetapkan dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hal ini merespons rupiah yang ditutup melemah 1,08% ke posisi Rp17.656/US$ di perdagangan spot hari ini, Senin (18/5/2026). Rupiah mencatat rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut nilai tukar rupiah secara year to date (ytd) saat ini berada di angka Rp16.900/US$. Adapun asumsi makro dalam APBN 2026 di rentang Rp16.200/US$ hingga Rp16.800/US$. Perry menegaskan rupiah akan menguat ke kisaran asumsi makro APBN 2026, setidaknya akan terjadi mulai Juli 2026.


Average of the year Rp16.500/US$, kisaran bawahnya Rp16.200/US$, kisaran atasnya Rp16.800/US$. Apakah BI yakin akan masuk? Masuk! Karena sekarang Rp16.900/US$ year to date. Dan pengalaman kami kalau April, Mei, Juni memang lagi tinggi [kebutuhan valuta asing]. Nanti kalau Juli, Agustus akan menguat,” kata Perry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026). 

Di sisi lain, Perry tidak menampik kini rupiah mengalami deviasi cukup jauh dari asumsi makro. Ia yakin bahwa rupiah hari ini melampaui kisaran fundamental yang seharusnya. Otoritas moneter Indonesia sendiri diketahui mengukur rupiah berdasarkan stabilitas nilai tukar rupiah bukan tingkat nilai tukar rupiah.