Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Lesu Lagi, Pasar Waspadai Harga Minyak dan Cadangan Devisa

Tim Riset Bloomberg Technoz
08 May 2026 09:22

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah kembali terdepresiasi, setelah kemarin sempat menguat ditopang oleh sentimen perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (8/5/2026), rupiah melemah 0,06%% ke posisi Rp17.353/US$, di tengah penantian pasar akan pengumuman cadangan devisa dan kembali memanasnya tensi perang di Timur Tengah. 

Tak lama berselang, rupiah kembali lesu dan tergerus 0,12% ke Rp17.363/US$, pada 09:06 WIB.


Pergerakan rupiah selaras dengan mata uang kawasan yang sebagian berbalik melemah. Won Korea Selatan yang paling tertekan dengan pelemahan 0,55%, disusul baht Thailand 0,35%, ringgit Malaysia 0,18%, dan peso Filipina 0,13%. 

Mata uang Asia kembali tertekan oleh kenaikan harga minyak. (Bloomberg)

Sebaliknya, yuan offshore, dolar Hong Kong, dolar Singapura, yen Jepang, serta dolar Taiwan berada di zona hijau meski penguatannya tipis sekali. Pergerakan mata uang kawasan kembali tertekan lantaran harga minyak kembali bertengger di atas US$100 per barel.