Logo Bloomberg Technoz

Simalakama Berjualan di Platform E-Commerce

Andrean Kristianto
07 May 2026 20:32

Pekerja melakukan siaran langsung penjualan pakaian melalui aplikasi belanja daring di Thamrin City, Kamis (7/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Pekerja melakukan siaran langsung penjualan pakaian melalui aplikasi belanja daring di Thamrin City, Kamis (7/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Kenaikan biaya administrasi di platform belanja daring mulai membebani para penjual. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kenaikan biaya administrasi di platform belanja daring mulai membebani para penjual. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Biaya layanan logistik dan ongkos kirim yang kini ditanggung penjual ikut memengaruhi harga produk di toko online. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Biaya layanan logistik dan ongkos kirim yang kini ditanggung penjual ikut memengaruhi harga produk di toko online. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Oleh karena itu penjual daring harus menaikan harga jualnya agar terhindar dari kerugian. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Oleh karena itu penjual daring harus menaikan harga jualnya agar terhindar dari kerugian. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Platform e-commerce menaikkan biaya layanan yang ditanggung oleh seller (penjual) sejak Mei 2026. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Platform e-commerce menaikkan biaya layanan yang ditanggung oleh seller (penjual) sejak Mei 2026. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kebijakan itu menuai keluhan pelaku usaha karena dinilai menambah beban biaya operasional di tengah persaingan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kebijakan itu menuai keluhan pelaku usaha karena dinilai menambah beban biaya operasional di tengah persaingan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja melakukan siaran langsung penjualan pakaian melalui aplikasi belanja daring di Thamrin City, Kamis (7/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Kenaikan biaya administrasi di platform belanja daring mulai membebani para penjual. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Biaya layanan logistik dan ongkos kirim yang kini ditanggung penjual ikut memengaruhi harga produk di toko online. (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Oleh karena itu penjual daring harus menaikan harga jualnya agar terhindar dari kerugian. (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Platform e-commerce menaikkan biaya layanan yang ditanggung oleh seller (penjual) sejak Mei 2026. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Kebijakan itu menuai keluhan pelaku usaha karena dinilai menambah beban biaya operasional di tengah persaingan. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kenaikan biaya administrasi di platform belanja daring (e-commerce) mulai membebani para penjual. Biaya layanan logistik dan ongkos kirim yang kini ditanggung penjual ikut memengaruhi harga produk di toko online.

Rizky, penjual yang berjualan di platform daring sekaligus memiliki toko di Thamrin City, Jakarta Pusat, mengaku terpaksa menaikkan harga barang setelah kebijakan baru diterapkan. Dampaknya, penjualan di toko daringnya menurun sejak awal bulan ini.

“Jadi sekarang lebih gedean platform margin-nya daripada kita, sekarang mau enggak mau naikin harga misalkan dari kita jual 200, kita naikin sesuai aturan baru, kita naikin Rp15.000, jadi penjualan menurun, lumayan kalau saya sampai 70% dari awal bulan ini,” kata Rizky.

Penyesuaian harga dilakukan untuk menutup tambahan biaya yang dibebankan platform e-commerce kepada penjual. Rizky menyebut harga barang di toko fisik saat ini justru lebih murah dibandingkan di platform daring.

Beban lain juga muncul ketika terjadi pengembalian barang atau retur pesanan. Biaya ongkos kirim untuk produk retur tetap menjadi tanggungan penjual.

“Rata-rata paket yang retur itu kadang enggak sampai ke kita lagi, yang parah itu COD [Cash on Delivery] tadi, ditolak, kita yang nanggung ongkirnya juga. Kalau enggak aktifin COD enggak ada yang order, pernah saya nonaktifin COD-nya enggak ada yang CO [check out],” ungkap Rizky.

Keluhan serupa disampaikan Novi, penjual gamis di Thamrin City. Ia mengaku sejak 2024 tidak lagi bergantung pada penjualan melalui platform belanja daring karena tingginya biaya administrasi dan banyaknya retur dari pelanggan.

“Dari 2014 sampai 2023 kita manfaatin online, tapi 2024 kita pindah konvensional. Pindah aliran karena biaya administrasi, kedua returan customer yang tidak bertanggung jawab,” ujar Novi, penjual gamis.

(dre/ros)