
Bloomberg Technoz, Jakarta - Dominasi China dalam industri mineral tanah jarang alias rare earth kembali mempertegas bahwa perang dagang modern tak lagi soal tarif atau ekspor-impor barang konsumsi.
Lebih dari itu, kendali atas rantai pasok mineral strategis ini bukan cuma jadi fondasi industri masa depan, tapi juga menjadi sumber kekuatan bagi negara dalam konteks balance of power.
Komoditas strategis ini disebut-sebut akan jadi salah satu isu penting ketika Presiden Xi Jinping dan Donald Trump bertemu langsung di Beijing pada 14-15 Mei mendatang. Namun, data menunjukkan betapa sulitnya bagi Barat untuk mengejar ketertinggalan, meski AS dan sekutunya terus berupaya bersaing dengan China.
Bloomberg Economics mencatat China saat ini menguasai sekitar 83% produksi tambang rare earth dunia, 91% pemisahan rare earth oxide (REO), dan 94% manufaktur magnet rare earth global.
Posisi dominan itu bukan dibangun dalam waktu singkat, tapi dari proses subsidi yang dilakukan dalam kurun waktu yang lama, kebijakan industri yang agresif, serta adanya pengembangan basis manufaktur domestik selama beberapa dekade.






























