Logo Bloomberg Technoz

Tertekan Harga Minyak, Penguatan Rupiah Rasanya Terbatas

Tim Riset Bloomberg Technoz
08 May 2026 08:11

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Penguatan rupiah sepertinya akan sulit bertahan lama. Bayang-bayang lonjakan harga minyak yang kembali terjadi, serta data cadangan devisa domestik yang akan rilis hari ini akan menjadi perhatian utama pelaku pasar. 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) memang masih stabil, walaupun masih di level tinggi Rp17.300-an/US$. 

Rupiah offshore dibuka stagnan di posisi Rp17.358/US$, kemudian menguat terbatas 0,09% ke posisi Rp17.342/US$, di tengah kenaikan harga minyak mentah.


Harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Juni sempat melonjak 1,96% ke US$120,34 per barel, dan kini masih bertahan di US$114 per barel pada 07:04 WIB. Kenaikan ini terjadi setelah bentrokan baru antara pasukan AS dan Iran kembali pecah, sehingga membayangi prospek tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang. 

Harga kontrak Brent pengiriman Juni. (Bloomberg)

Komando Pusat AS menyebut pasukannya berhasil menggagalkan serangan Iran yang dinilai tidak diprovokasi, lalu melancarkan serangan balasan sebagai langkah pertahanan saat kapal perusak rudal berpemandu melintasi Selat Hormuz. Meski demikian, militer AS menegaskan tidak menghendaki eskalasi konflik lebih lanjut.