Logo Bloomberg Technoz

“Realisasi program dekarbonisasi Pertamina Patra Niaga di Triwulan I 2026 meningkat signifikan. Ini merupakan bukti nyata, bahwa upaya yang kami lakukan terukur dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan,” ujarnya.

Inovasi Teknologi Dorong Penurunan Emisi

(Dok. Pertamina patra niaga)

Salah satu kunci utama dalam pencapaian ini adalah penerapan teknologi digital dalam operasional kilang. Pertamina Patra Niaga mengadopsi digital twin dan sensor berbasis Internet of Things untuk memantau proses produksi secara real time.

Teknologi ini memungkinkan optimalisasi proses operasional sekaligus mengurangi potensi gangguan atau downtime. Dampaknya, efisiensi energi meningkat dan emisi karbon dapat ditekan secara signifikan.

Selain digitalisasi, perusahaan juga mengimplementasikan teknologi Carbon Capture & Utilization. Teknologi ini memungkinkan penangkapan karbon dari proses produksi untuk kemudian dimanfaatkan kembali dalam berbagai kebutuhan industri.

Unit CCU telah diterapkan di Kilang Balikpapan sebagai bagian dari proyek strategis Refinery Development Master Plan. Implementasi ini menjadi langkah konkret dalam mengurangi emisi langsung dari aktivitas kilang.

Pertamina Patra Niaga juga memanfaatkan Flare Gas Recovery System untuk mengolah kembali gas sisa produksi. Gas yang sebelumnya dibakar kini dapat dimanfaatkan kembali, sehingga mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari proses pembakaran.

Di sisi lain, pemanfaatan energi baru terbarukan juga menjadi bagian penting dalam strategi dekarbonisasi. Perusahaan telah memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya di sejumlah kilang seperti Balikpapan, Dumai, Plaju, Cilacap, dan Balongan.

Total kapasitas PLTS yang terpasang mencapai 12,37 MWp. Pemanfaatan energi surya ini tidak hanya menekan emisi, tetapi juga membantu efisiensi biaya operasional kilang secara keseluruhan.

Menurut Roberth, langkah-langkah tersebut menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam proses bisnis. Upaya ini juga sejalan dengan komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip ESG.

“Inovasi teknologi di kilang Pertamina Patra Niaga bukan sekadar pembaruan operasional, melainkan strategi jangka panjang untuk menyeimbangkan kebutuhan energi nasional dengan komitmen lingkungan. Produk rendah karbon seperti Pertamina SAF, Pertamina RD (HVO), Pertamax Green, dan Biodiesel (B40) adalah bukti konkret dari komitmen hijau kami,” tutup Roberth.

Selain fokus pada proses produksi, Pertamina Patra Niaga juga mengembangkan produk energi rendah karbon. Produk seperti Pertamina SAF, HVO, Pertamax Green, dan Biodiesel B40 menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi yang lebih ramah lingkungan.

Dengan capaian positif di awal tahun, perusahaan optimistis dapat mencapai target dekarbonisasi kumulatif sebesar 500 ribu metrik ton CO2 ekuivalen hingga akhir 2026. Target ini menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung agenda transisi energi nasional.

Langkah-langkah yang diambil Pertamina Patra Niaga menunjukkan bahwa transformasi menuju energi bersih tidak hanya menjadi wacana, tetapi telah diimplementasikan secara nyata melalui berbagai inovasi dan investasi strategis.

Ke depan, perusahaan akan terus memperkuat kolaborasi dan inovasi guna memastikan program dekarbonisasi berjalan secara berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata dalam menekan emisi karbon sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.

Melalui pendekatan yang terintegrasi, Pertamina Patra Niaga menegaskan perannya sebagai salah satu aktor penting dalam mendorong transisi energi di Indonesia. Momentum Hari Bumi menjadi pengingat bahwa upaya menjaga lingkungan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

(tim)

No more pages