Program Pertamina Patra Niaga Gerakkan Ekonomi Kutawaru

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat peran dalam mendorong kemandirian masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Salah satu inisiatif unggulan yang menunjukkan dampak nyata adalah program MAMAKU SIGAP yang dijalankan di Kelurahan Kutawaru, Kabupaten Cilacap.
Program yang diinisiasi oleh Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap ini hadir sebagai solusi terpadu atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Wilayah Kutawaru diketahui memiliki tantangan kompleks yang membutuhkan pendekatan terintegrasi.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa kondisi sosial di wilayah tersebut cukup memprihatinkan. Berdasarkan pemetaan sosial, terdapat lebih dari 4.600 warga berpendapatan rendah yang tergolong dalam 320 kelompok rentan.
Kelompok tersebut terdiri dari mantan Pekerja Migran Indonesia, mantan Anak Buah Kapal, buruh serabutan, hingga perempuan dari keluarga prasejahtera. Selain itu, terdapat pula anak-anak sekolah dan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana.
Di sisi lain, persoalan lingkungan juga menjadi perhatian utama. Ketiadaan fasilitas tempat pembuangan akhir membuat wilayah ini menghasilkan sekitar 240 ton sampah setiap tahunnya tanpa pengelolaan optimal.
“Kondisi ini menegaskan perlunya solusi terpadu yang tidak hanya berfokus pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertamina Patra Niaga merasa terpanggil untuk terjun langsung kesana dan membuat perubahan melalui inovasi sosial,” tutur Roberth.
Program MAMAKU SIGAP mulai dijalankan pada 2020 setelah melalui berbagai tahapan persiapan. Konsep yang diusung mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat.
Integrasi Lingkungan dan Ekonomi
Salah satu pilar utama dalam program ini adalah pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular melalui Bank Sampah Abhipraya. Pendekatan ini mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Strategi yang diterapkan mencakup prinsip Refuse, Rethink, Repurpose, Recycle, dan Recover. Melalui pendekatan tersebut, sampah tidak lagi dianggap sebagai limbah semata, melainkan peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
Setiap tahunnya, Bank Sampah Abhipraya mampu mengelola sekitar 7,6 ton sampah. Aktivitas ini tidak hanya membantu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
“Dengan beroperasinya Bank Sampah Abhipraya, masalah lingkungan di Kutawaru teratasi dengan baik. Bank sampah ini juga menjawab permasalahan ekonomi warga, karena sampah yang dikelola menghasilkan pundi-pundi rupiah,” jelas Roberth.
Selain pengelolaan sampah, program ini juga mencakup upaya pelestarian lingkungan melalui penanaman mangrove di pesisir pantai Cilacap. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi risiko abrasi yang kerap mengancam wilayah pesisir.
Pertamina Patra Niaga juga memperkenalkan pemanfaatan energi bersih melalui pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan kapasitas 6.600 Wattpeak. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mendorong keberlanjutan lingkungan.
Di sektor ekonomi, program MAMAKU SIGAP turut mendorong lahirnya Kampoeng Kepiting sebagai sentra kuliner berbasis masyarakat. Usaha ini dikelola langsung oleh warga dan menawarkan berbagai hidangan laut.
Salah satu produk unggulan dari Kampoeng Kepiting adalah kepiting cangkang lunak yang memiliki nilai jual tinggi. Kini, kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi wisata lokal dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Penguatan ekonomi masyarakat juga dilakukan melalui Pasar Amarta yang menjadi pusat pemasaran produk UMKM lokal. Kehadiran pasar ini memberikan akses yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil untuk menjangkau konsumen.
Selain itu, terdapat pula Integrated Farming System yang menjadi wadah pengembangan sektor pertanian dan perikanan. Sistem ini memungkinkan masyarakat mengelola sumber daya secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Dampak dari program ini tidak hanya terlihat pada peningkatan ekonomi, tetapi juga pada aspek sosial. Perputaran ekonomi yang tercipta mencapai Rp366 juta per bulan, mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin dinamis.
Sebagian dari perputaran tersebut dialokasikan untuk kegiatan sosial masyarakat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas. Hal ini memperkuat solidaritas dan kemandirian komunitas.
Program ini juga memberikan kontribusi pada sektor pendidikan melalui pembentukan pusat pembelajaran. Fasilitas ini mendorong masyarakat untuk lebih memahami pengelolaan lingkungan secara mandiri.
Roberth menegaskan bahwa program MAMAKU SIGAP sejalan dengan berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan. Program ini mencakup upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, hingga penanganan perubahan iklim.
“Dengan keberhasilan menciptakan ekosistem yang lebih inklusif, mandiri, dan berkelanjutan, kami optimis MAMAKU SIGAP bisa menjadi contoh nyata bagaimana inovasi sosial dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat, sekaligus menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia,” tutup Roberth.
Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pendekatan terintegrasi mampu menjawab berbagai tantangan sekaligus. MAMAKU SIGAP menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat dapat menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

































