Seluk Beluk Program Kosmonot Antariksa dari Rusia
Redaksi
23 April 2026 16:20

Bloomberg Technoz, Jakarta - Presiden Praboow Subianto menjajaki pengiriman warga Indonesia dalam program pelatihan Kosmonot Rusia, karena menilai negara mitra strategis Indonesia tersebut memiliki keunggulan pada bidang teknologi, khususnya Antariksa.
Rencana tersebut disampaikan Prabowo saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow. Dalam pertemuan tersebut juga dibahas mengenai kerja sama bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Lalu, seperti apa program Antariksa Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin, yang merupakan kelanjutan dari warisan panjang era Uni Soviet ini?
Perlu diketahui, program Antariksa Rusia dikelola oleh Roscosmos yang dibentuk untuk mengonsolidasikan industri luar angkasa pasca runtuhnya Uni Soviet, dikutip Kamis (23/4/2026).
Menurut laporan European Space Agency, Rusia mempertahankan peran penting dalam misi berawak, terutama melalui wahana Soyuz yang menjadi satu-satunya transportasi astronot ke ISS selama 2011-2020.
Namun, dalam laporan Center for Strategic and International Studies dalam Space Threat Assessment 2024 menyebut, Rusia masih memiliki kapabilitas peluncuran yang kuat, namun tertinggal dalam inovasi dibanding Amerika Serikat (AS) dan China.
Hal ini juga ditegaskan dalam analisis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menyebut investasi sektor Antariksa Rusia relatif stagnan dibandingkan negara pesaing.
Analisis terbaru dari Foreign Policy Research Institute (FPRI) menyebut program Antariksa Rusia kini berada dalam kondisi turbulence and uncertainty atau penuh gejolak dan ketidakpastian.
Menurut laporan tersebut, kemunduran program Antariksa Rusia sebenarnya telah dimulai sejak 2014 dan semakin memburuk pasca perang Ukraina. Sanksi internasional, embargo teknologi, serta putusnya kerja sama dengan negara Barat menjadi faktor utama.
FPRI mencatat bahwa sektor Antariksa Rusia kini menghadapi berbagai masalah struktural, mulai dari keterbatasan dana, kekurangan tenaga kerja, hingga rendahnya produktivitas.
Selain itu, ketergantungan pada komponen impor terutama elektronik kelas Antariksadan peralatan industri membuat pengembangan teknologi baru menjadi semakin sulit.
Pemerintah Rusia sebenarnya telah mencoba meningkatkan Antariksa melalui program Space Activity of Russia by 2030. Namun, tekanan inflasi, pelemahan rubel, serta pembengkakan biaya industri membuat upaya tersebut tidak cukup untuk membalikkan tren penurunan.
FPRI mencatat bahwa realisasi belanja Antariksa Rusia jauh di bawah rencana awal. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara ambisi dan kemampuan finansial. Akibatnya, banyak proyek strategis mengalami penundaan panjang, termasuk pengembangan roket generasi baru dan wahana Antariksa berawak pengganti Soyuz.
Dalam kondisi keterbatasan tersebut, Rusia diperkirakan segera memprioritaskan pada dua hal utama hingga 2030-an, yakni program Antariksa militer, dan misi berawak untuk menjaga status sebagai negara adidaya Antariksa.
FPRI menyebut bahwa eksplorasi luar angkasa seperti misi ilmiah dan proyek ambisius kemungkinan besar akan dikorbankan. “Rusia akan mempertahankan penerbangan berawak dan program militer dengan segala cara,” tulis laporan tersebut.
































