OPINI
Kecerdasan Buatan Dalam Konflik Geopolitik Regional, dan Global
Yohannes Krishna Fajar Nugroho Narastradi
20 April 2026 10:52

|
Penulis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho, M.I.Kom. Yohannes Krishna Fajar Nugroho, M.I.Kom. Adalah seorang advisor di Blocksphere.id dengan latar belakang pendidikan Ilmu Komunikasi dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Ia memiliki pengalaman profesional di bidang jurnalistik dan teknis, terutama dalam instalasi dan pengelolaan sistem radar kelautan di wilayah Sulawesi dan Papua. Fajar dikenal sebagai satu-satunya lulusan IISIP Jakarta yang secara khusus meneliti isu deradikalisasi dan terorisme dalam perspektif komunikasi. |
Konflik yang terjadi belakangan ini tidak lagi dimenangkan oleh siapa yang memiliki rudal paling banyak, tetapi oleh siapa yang menguasai fondasi teknologi yang mampu menopang kekuatan global.
Dalam beberapa tahun ke depan, kecerdasan buatan diperkirakan akan menjadi faktor yang mendominasi dalam menentukan keseimbangan kekuatan dunia. Dalam cara pandang ini, konflik yang terjadi saat ini tidak dapat hanya dipahami sebagai benturan militer, melainkan sebagai perebutan posisi strategis—siapa yang menguasai energi, dan siapa yang mengendalikan teknologi. Pandangan ini sejalan dengan analisis sejumlah pengamat yang melihat bahwa eskalasi konflik global saat ini bergerak menuju kompetisi penguasaan sumber daya strategis yang menopang perkembangan kecerdasan buatan.
Dua fondasi utama telah menjadi penentu dalam kompetisi tersebut. Pertama adalah energi, yang menjadi sumber daya utama untuk menggerakkan infrastruktur digital dan industri global, terutama di kawasan Timur Tengah. Kedua adalah semikonduktor, komponen inti dalam pengembangan kecerdasan buatan, yang produksinya masih sangat terkonsentrasi di Taiwan melalui perusahaan seperti TSMC. Data menunjukkan bahwa lebih dari 90% chip AI paling canggih diproduksi oleh perusahaan ini, yang menjadi titik krusial dalam rantai pasok teknologi global. Dengan demikian, konflik di Timur Tengah dan ketegangan di Taiwan tidak lagi dapat dilihat sebagai peristiwa terpisah, melainkan sebagai bagian dari dinamika yang sama: perebutan kendali atas energi dan teknologi yang akan menentukan arah kekuatan dunia di era kecerdasan buatan.
Baca Juga
AI Sebagai Indikator Penentu Kekuasaan Global
Pembahasan tentang AI tidak akan pernah lepas dari bahasan tentang Big Data. Dua pihak tersebut merupakan wujud simbiosis mutualisme. Big Data merupakan satu ‘makanan’ AI dan tanpa Big Data, AI tidak dapat mengolah apa pun, dan tanpa AI, Big Data hanyalah sekumpulan data mentah yang tidak dapat diolah.
Secara eksponensial, skala Big Data sendiri terus meningkat. Laporan International Data Corporation memperkirakan ada peningkatan yang cukup signifikan dalam delapan tahun terakhir. Pada 2018, volume data global mencapai 33 zetabyte, dan pada 2025 volume data global diperkirakan mencapai lebih dari 175 zetabyte. Selain itu, diperkirakan lebih dari 90% data dunia saat ini dihasilkan hanya dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan betapa cepatnya pertumbuhan ekosistem data digital. Dalam konteks ini, kemampuan untuk mengelola dan memanfaatkan data menjadi faktor krusial dalam menentukan keunggulan teknologi dan strategi suatu negara.
Big Data dalam hal ini mencakup citra satelit, peta topografis, bahkan peta hidrografi sebuah negara. Jika kecerdasan buatan didukung oleh data pertahanan yang komprehensif, seperti spesifikasi alutsista serta kondisi geografis suatu wilayah, maka hal itu menjadi keunggulan strategis yang sangat signifikan dalam memahami dan memetakan sistem pertahanan suatu negara. Selain itu, AI mampu memprediksi dampak yang akan terjadi dari sebuah pertempuran, serta kerugian apa saja yang akan dialami oleh suatu negara. Dampak paling nyata jika terjadi perang adalah kerusakan perekonomian. Gangguan terhadap stabilitas kawasan tidak hanya memengaruhi keamanan, tetapi juga berpotensi memengaruhi rantai pasok global, memicu fluktuasi harga energi, serta menekan pertumbuhan ekonomi.
Kemenangan dalam perang modern bukan hanya tentang penaklukan menggunakan kekuatan militer, tetapi juga tentang bagaimana mengelola dampak dan risiko yang ditimbulkan setelah perang terjadi. Jika kecerdasan buatan menjadi instrumen utama dalam perang modern, pertanyaan berikutnya adalah: Apa yang menopang instrumen tersebut?
Sumber daya strategis yang memungkinkan AI untuk tetap beroperasi menjadi kunci dari masalah pergang global. Jadi, konflik global saat ini tidak hanya berkaitan dengan dominasi militer atau politik, tetapi juga mencerminkan perebutan atas sumber daya kunci seperti energi dan semikonduktor, yang menjadi fondasi utama dalam perlombaan teknologi global.
Salah satu contoh konkret perebutan sumber daya strategis ini dapat dilihat pada dinamika konflik di Timur Tengah. Sebagai gambaran, kebutuhan minyak global saat ini mencapai 100 juta barel per hari dan sangat meningkat secara signifikan sejak tahun 1970. Gangguan 1-2 juta barel per hari memberikan dampak yang sangat signifikan pada harga minyak global. Iran berperan menyumbang sebanyak 3–4,5% dari total kebutuhan global, dan Iran memiliki cadangan minyak sebesar 208 miliar barel. Dari fakta tersebut, Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu pasar global dan memengaruhi harga minyak dunia. Dengan begitu, Amerika Serikat tidak ingin kehilangan dominasi di Timur Tengah dan bersama dengan Israel melakukan serangan yang masif terhadap Iran. Kekacauan di kawasan menjadi hal yang sangat berpengaruh pada stabilitas energi global.
Dari kacamata ilmu Hubungan Internasional, kondisi ini dapat dilihat melalui pendekatan realisme yang melihat bahwa negara bertindak untuk mempertahankan kepentingan nasional dan kekuasaannya dalam sistem internasional yang anarkis. Dalam konteks ini, penguasaan terhadap sumber daya strategis menjadi bagian dalam upaya mempertahankan dominasi. Konsep geopolitik energi juga menjelaskan bahwa distribusi kontrol atas sumber daya energi merupakan kunci dalam menentukan konfigurasi kekuatan global. Dari cara pandang ini, Iran tidak hanya dipandang sebagai produsen minyak, tetapi juga aktor yang memiliki kapasitas untuk memengaruhi stabilitas pasar global.
Tidak hanya di Iran, konflik dingin yang terjadi di Taiwan juga menjadi ‘konflik’ yang memperebutkan posisi untuk menjadi negara semikonduktor. Negara di kawasan Asia Timur ini termasuk dalam semikonduktor, yang menjadi pusat pembuatan chip dunia, dan menciptakan fondasi teknologi modern dan AI. China berusaha untuk menguasai Taiwan, sedangkan Amerika berusaha agar Taiwan tidak jatuh ke China. Konflik di Timur Tengah memengaruhi distribusi dan kontrol energi global, di mana kekuatan besar berupaya mempertahankan akses dan pengaruhnya, dan stabilitas Taiwan menjadi krusial dalam menjaga rantai pasok semikonduktor global yang menjadi basis pengembangan teknologi dan AI. Jika eskalasi konflik di Timur Tengah berpindah ke Asia Timur antara China dan Taiwan, ada potensi terganggunya distribusi dan kontrol teknologi global.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di tengah dinamika perebutan energi dan teknologi global, Indonesia belum sepenuhnya terkonsolidasi sebagai kekuatan strategis. Di satu sisi, Indonesia memiliki sumber daya yang menjadi fondasi teknologi masa depan. Indonesia menguasai sekitar 40% cadangan nikel dunia dan menjadi produsen terbesar secara global, menjadikannya bagian penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik—komponen kunci dalam transisi energi dan perkembangan teknologi modern.
Kendati demikian, belum berbanding lurus dengan tingkat national independence. Kebutuhan minyak yang mencapai 1,6 juta barel per hari, dengan produksi domestik hanya berada di kisaran 600 ribu barel per hari menciptakan gap yang cukup lebar. Gap ini memaksa Indonesia untuk bergantung pada impor, dengan nilai yang menembus lebih dari US$30 miliar per tahun. Terlihat jelas bahwa dinamika global sangat memengaruhi stabilitas energi nasional, dan hal ini terjadi di luar kendali domestik.
Ketergantungan tersebut juga terlihat dalam sektor teknologi. Indonesia tidak memiliki kapasitas produksi semikonduktor canggih dan masih bergantung pada negara lain dalam pengembangan infrastruktur digital serta kecerdasan buatan. Dalam konteks ini, Ray Frederick Djajadinata menekankan pentingnya memahami siapa aktor di balik pengembangan AI, karena kontrol atas teknologi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan nasional. Sementara itu, Pandu Wisaksono Sastrowardoyo mendorong agar Indonesia tidak berhenti sebagai penyedia sumber daya, melainkan bertransformasi menjadi aktor yang memiliki peran dalam kompetisi global.
Dalam dinamika geopolitik global, konflik yang terjadi saat ini menyerupai sebuah vortex—pusaran besar yang menarik berbagai negara ke dalam arusnya. Indonesia, belum berada di pusat pusaran tersebut, melainkan masih berada pada lapisan eddi yang terkena dampak dari pusaran dan belum menentukan arah. Tantangan utama yang sebenarnya dihadapi bukan pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi pada kemampuan sumber daya manusia untuk mengolah dan mengendalikannya menjadi kekuatan strategis. Tinggal bagaimana political will dari pemerintah Indonesia.
Apakah ingin tetap hadir sebagai bagian dari rantai pasok global, tanpa memiliki kendali signifikan terhadap arah perkembangan teknologi dan kekuatan dunia? Atau menjadi game changer yang tentunya akan sangat sulit terwujud jika terus-menerus pada posisi seperti sekarang ini.
DISCLAIMER
Opini yang disampaikan dalam artikel ini sepenuhnya merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap, kebijakan, atau pandangan resmi dari Bloomberg Technoz. Kami tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau validitas informasi yang disajikan dalam opini ini.
Setiap pembaca diharapkan untuk melakukan verifikasi dan mempertimbangkan berbagai sumber sebelum mengambil kesimpulan atau tindakan berdasarkan opini yang disampaikan. Jika terdapat keberatan atau klarifikasi terkait isi opini ini, silakan hubungi redaksi melalui contact@bloombergtechnoz.com
Tentang Z-ZoneZ-Zone merupakan kanal opini di Bloomberg Technoz yang menghadirkan beragam pandangan dari publik, akademisi, praktisi, hingga profesional lintas sektor. Di sini, penulis bisa berbagi ide, analisis, dan perspektif unikmu terhadap isu ekonomi, bisnis, teknologi, dan sosial. Punya opini menarik? |
(yhn)





















