Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menegaskan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas hidup perempuan.
“Semangat Kartini hari ini kami wujudkan melalui kemudahan akses layanan kesehatan bagi perempuan. BPJS Kesehatan hadir untuk memastikan perempuan dapat memperoleh layanan promotif dan preventif sejak dini, sehingga kondisi kesehatan dapat terjaga secara berkelanjutan,” ujar Rizzky dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4).
Sebagai wujud komitmen tersebut, melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan menjamin berbagai layanan kesehatan yang dapat diakses perempuan di setiap fase kehidupan. Layanan ini mencakup skrining IVA dan Pap Smear untuk pencegahan kanker serviks, deteksi dini kanker payudara, pemeriksaan kehamilan, hingga pelayanan persalinan sesuai indikasi medis.
“BPJS Kesehatan tidak tinggal diam. Kami terus melakukan edukasi dan mendorong peserta, khususnya perempuan, untuk melakukan skrining deteksi dini, baik kanker payudara maupun kanker serviks. Upaya ini penting agar penyakit dapat diketahui lebih awal dan ditangani secara optimal,” ujar Rizzky.
Ia menambahkan, pada 2025 capaian skrining meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan kesadaran peserta yang semakin baik.
Capaian skrining kesehatan perempuan pun menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Skrining kanker payudara tercatat sebanyak 7.440 peserta pada 2024 dan melonjak menjadi 30.159 peserta pada 2025. Sementara itu, skrining kanker serviks melalui pemeriksaan IVA dan Pap Smear sepanjang 2021–2025 telah menjangkau 1.579.810 peserta, terdiri dari 770.672 peserta IVA dan 809.138 peserta Pap Smear.
Selain layanan deteksi dini, Program JKN juga memberikan perlindungan komprehensif melalui layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), mulai dari pemeriksaan kehamilan, persalinan, hingga pascapersalinan. Penjaminan ini diperkuat melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2023 guna meningkatkan mutu layanan di fasilitas kesehatan.
Melalui program tersebut, peserta perempuan dijamin memperoleh layanan antenatal care (ANC) sebanyak enam kali, pemeriksaan USG sesuai ketentuan, pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan kompeten, layanan rujukan sesuai indikasi medis, hingga pelayanan pascapersalinan dan skrining bayi baru lahir.
Rizzky menegaskan, BPJS Kesehatan tidak hanya menjamin layanan pengobatan, tetapi juga memastikan perempuan mendapatkan perlindungan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari deteksi dini kanker hingga layanan kehamilan dan persalinan.
Berdasarkan data pelayanan, jumlah persalinan yang dijamin BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) menunjukkan tren tinggi dan relatif stabil dalam lima tahun terakhir.
Pada 2021 tercatat 2.365.927 persalinan dengan biaya sekitar Rp7,30 triliun, meningkat menjadi 2.501.278 pada 2022 dan mencapai puncak 2.711.289 pada 2023. Sementara pada 2025, total persalinan tercatat 2.670.364 kasus dengan biaya terverifikasi mencapai Rp10,03 triliun.
(dec)


























