Logo Bloomberg Technoz

Amodei Sudah Lama Blak-blakan 'Orang Makin Menganggur karena AI'

Merinda Faradianti
20 April 2026 16:00

CEO Anthropic PBC, Dario Amodei. Bloomberg
CEO Anthropic PBC, Dario Amodei. Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ancaman kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap lapangan kerja kian nyata. CEO Anthropic, Dario Amodei, sejak lama blak-blakan memperingatkan bahwa perkembangan AI berpotensi mendorong peningkatan pengangguran, terutama di sektor pekerjaan kantoran atau white-collar.

Dalam laporan Axios, dikutip Senin (20/4/2026), Amodei menyebut AI telah memasuki fase di mana teknologi mulai menggantikan fungsi kognitif yang selama ini dilakukan pekerja profesional.

Ia menjabarkan lebih jauh bahwa  AI diproyeksikan mampu menghapus hingga setengah pekerjaan kerah putih entry-level dan berkontribusi terhadap tingkat pengangguran sebesar 10%–20% dalam lima tahun ke depan.

“Kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa ini akan terjadi. Kedengarannya gila, dan orang-orang tidak mempercayainya,” kata Amodei.

Baca Juga: Orang Makin Sukar Cari Kerja, Semua Direbut AI

Amodei menegaskan bahwa kemampuan AI yang semakin canggih akan menggantikan banyak tugas kognitif manusia. Dampaknya dinilai tidak kecil dan berpotensi memicu lonjakan pengangguran jika tidak diantisipasi sejak dini.

Perkembangan terbaru juga menunjukkan perusahaan teknologi berlomba mengembangkan AI agent atau agen AI berbasis large language models (LLM). Dalam bentuk paling sederhana, agen AI mampu menyelesaikan pekerjaan manusia secara instan, tanpa batas waktu, dan dengan biaya jauh lebih murah.

PHK karyawan bagian dari transisi AI

Sinyal pergeseran ini mulai terlihat dari kebijakan perusahaan teknologi. Evan Spiegel, CEO Snap Inc., mengakui bahwa rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak lepas dari dorongan untuk menciptakan organisasi yang lebih cepat dan efisien.

Snap memutuskan memangkas sekitar 1.000 karyawan atau setara 16% dari total tenaga kerjanya secara global. Perusahaan juga menutup lebih dari 300 lowongan pekerjaan sebagai bagian dari restrukturisasi.

“Saya menggambarkan Snap sedang menghadapi situasi krusial, yang menuntut cara kerja baru yang lebih cepat dan efisien, sekaligus beralih ke arah pertumbuhan yang menguntungkan,” ujar Spiegel dalam memo internal. Langkah efisiensi tersebut diproyeksikan memangkas biaya tahunan lebih dari US$500 juta pada paruh kedua tahun ini.

Di sisi lain, Snap tetap menargetkan pertumbuhan, dengan proyeksi pendapatan kuartal pertama meningkat sekitar 12% menjadi US$1,53 miliar. PHK ini terjadi beberapa minggu setelah investor aktivis Irenic Capital Management masuk sebagai pemegang saham dan mendorong percepatan peningkatan kinerja keuangan.

“Kami yakin kemajuan pesat dalam AI memungkinkan tim kami mengurangi pekerjaan yang berulang, meningkatkan kecepatan, dan mendukung komunitas, mitra, serta pengiklan kami.”

PHK karena AI melonjak tajam

Gelombang PHK di industri teknologi pun kian menguat. Analisis terbaru menunjukkan PHK yang terkait langsung dengan adopsi AI telah melampaui 39.000 kasus pada 2026, hampir setengah dari total 84.223 PHK teknologi global tahun ini.

Perusahaan teknologi besar menjadi kontributor utama, dimana Oracle Corporation tercatat sebagai penyumbang terbesar dengan 25.254 PHK, seiring restrukturisasi menuju infrastruktur cloud berbasis AI. Secara sektoral, perusahaan Cloud dan SaaS menjadi yang paling terpukul dengan lebih dari 28.000 PHK, disusul e-commerce dan marketplace.

Platform media sosial juga kehilangan lebih dari 4.000 pekerjaan sejak awal 2026. Amerika Serikat (AS) mencatat lebih dari 65.000 PHK teknologi terkait AI tahun ini, diikuti Australia, India, serta sejumlah negara Eropa seperti Austria, Swedia, dan Belanda.

Analis TradingPlatforms, Stanislava Savisheva, menyebut pengurangan tenaga kerja menjadi salah satu sumber pendanaan investasi besar-besaran di AI. “Amazon, Meta, Google, dan Microsoft sendiri diharapkan menginvestasikan sekitar US$650 miliar dalam infrastruktur AI tahun ini, dan uang itu harus datang dari suatu tempat,” ujarnya.

Baca Juga: Paradoks pengembangan AI, lahirkan gelombang pemecatan di 2026

Sejumlah perusahaan besar juga melakukan efisiensi, seperti Microsoft yang memangkas 6.000 pekerja, Walmart yang mengurangi 1.500 pekerjaan, serta CrowdStrike yang memangkas 500 karyawan.

Daftar perusahaan lain yang dilaporkan menjalankan PHK, antara lain:

*   Block Inc.: 4.000 PHK

*   WiseTech Global: 2.000 PHK


*   Atlassian: 1.600 PHK

*   Livspace: 1.000 PHK

Artikel Terkait