Smelter Nikel Mulai Diversifikasi Sumber Sulfur dari AS-Korea
Sabrina Mulia Rhamadanty
05 June 2026 18:00

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengatakan para pelaku usaha hilirisasi nikel telah mulai melakukan diversifikasi impor mengatasi ketatnya pasokan sulfur (belerang) global imbas konflik di Timur Tengah (Timteng).
Untuk diketahui, hingga 2025 Timteng menjadi kawasan utama impor sulfur Indonesia. Sekitar 75%-80% kebutuhan impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timteng, dari total sekitar 5,3 juta ton.
“Ada beberapa negara [diversifikasi]. Ada Kanada, Amerika, dan Korea,” ungkap Ketua FINI Arif Perdana Kusumah kepada awak media dalam agenda Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Sulfur adalah bahan baku yang digunakan dalam produksi produk antara nikel seperti mixed hydroxide precipitate (MHP)—bahan baku baterai—melalui proses pelindian asam bertekanan tinggi. Sebagai gambaran, memproduksi 1 ton MHP umumnya membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur.
Negara-negara tersebut, kata Arif, dipilih karena memiliki industri pengolahan minyak bumi dengan teknologi tinggi. Seperti diketahui, sulfur merupakan produk sampingan (by-product) dari proses penyulingan minyak bumi.




























