Buruh soal Imbauan WFH: Beban Biaya Perusahaan Pindah ke Pekerja
Mis Fransiska Dewi
03 April 2026 10:45

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Aspirasi) menilai kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) berpotensi memindahkan sebagian beban biaya operasional dari perusahaan ke pekerja. Untuk itu, pemerintah perlu mengkaji kebijakan secara menyeluruh terutama dari sisi dampak ekonomi terhadap pekerja/buruh.
Presiden Aspirasi Mirah Sumirat memerinci beban operasional perusahaan yang dimaksud seperti biaya listrik, internet, dan fasilitas kerja. Tanpa pengaturan yang jelas, WFH juga dapat menyebabkan jam kerja menjadi tidak terkontrol dan berisiko meningkatkan beban kerja terselubung.
“Hal ini berpotensi menurunkan produktivitas jangka panjang serta meningkatkan risiko kelelahan kerja (burnout),” kata dia dalam siaran pers, Jumat (3/4/2026).
Mirah juga menyampaikan pengalaman saat pandemi Covid-19 ketika pekerja/buruh yang menjalankan WFH mengalami kenaikan pengeluaran rumah tangga, khususnya untuk listrik dan internet. Rata-rata tambahan biaya listrik rumah tangga diperkirakan meningkat 10%–20%, tergantung penggunaan perangkat kerja seperti laptop, pendingin ruangan, dan pencahayaan.
Sementara itu, biaya internet yang memadai untuk pekerjaan profesional dapat mencapai Rp300.000–Rp700.000 per bulan. Tanpa adanya kompensasi dari perusahaan, tambahan beban ini secara langsung menurunkan pendapatan riil pekerja/buruh.





























