Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tembus Rp17.000/US$, BI-Kemenkeu Diminta Kompak Jaga Kurs

Mis Fransiska Dewi
02 April 2026 16:40

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 0,12% dan menembus level Rp17.000/US$ pada perdagangan spot Kamis (2/4/2026).

Menanggapi fenomena mata uang ini, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai depresiasi rupiah merupakan dampak dari tekanan eksternal yang sangat kuat, bukan semata cerminan rapuhnya dasar ekonomi domestik.

Dia mengimbau Bank Indonesia (BI) untuk menahan laju pelemahan agar rupiah tetap stabil, likuid, dan tidak menular ke inflasi serta kepanikan yang lebih luas. Sementara itu, pemerintah diminta menjaga disiplin fiskal untuk menjaga kepercayaan investor di pasar keuangan. Kedua otoritas harus kompak menjalankan kebijakan seiring sejalan.


Secara lebih detail, dia menjelaskan sumber tekanan terhadap rupiah datang dari perang di Timur Tengah yang masih memanas karena status Selat Hormuz masih belum pasti, padahal jalur ini membawa sekitar seperlima pasokan minyak laut dunia. 

Dalam situasi itu, harga minyak mentah acuan dunia Brent masih bertahan di atas US$100/barel, biaya pengiriman dan asuransi naik, tekanan harga impor membesar, dan dolar AS sempat menguat karena kembali diburu sebagai tempat aman.