“Jadi, level Rp17.000/US$ ini lebih tepat dibaca sebagai puncak tekanan pasar global daripada tanda bahwa fondasi ekonomi Indonesia yang memburuk,” kata dia saat dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Dalam kondisi seperti ini, kata Josua, tugas BI bukan memaksakan rupiah harus berada di angka tertentu, melainkan menahan laju pelemahan agar tetap stabil, likuid, dan tidak menular ke inflasi serta kepanikan yang lebih luas.
Menurutnya, arah itu juga sudah ditegaskan BI pada rapat Maret 2026 dengan menahan suku bunga di level 4,75% untuk memperkuat kestabilan rupiah di tengah memburuknya kondisi global akibat perang Timur Tengah.
Lalu memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui kehadiran di pasar valuta asing luar negeri dan domestik, operasi moneter yang lebih menarik bagi aliran dana masuk, penyesuaian ketentuan transaksi valuta asing mulai April 2026, serta penguatan pelaporan arus devisa.
Menurut dia, langkah itu tepat dilakukan BI karena harus fokus menjaga ritme pasar, bukan sekadar mempertahankan angka psikologis.
“Karena sumber guncangannya datang dari dolar yang kuat, kenaikan imbal hasil surat utang AS, dan perpindahan dana ke aset aman,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah, Josua menyoroti otoritas perlu menjaga kepercayaan pasar bahwa guncangan ini tidak akan berubah menjadi masalah fiskal dan masalah neraca luar negeri.
Artinya, pemerintah harus menjaga disiplin anggaran, memberi kepastian soal strategi subsidi dan ketahanan energi, memperkuat pasokan devisa dari ekspor, serta memastikan komunikasi dengan BI benar-benar satu suara.
Menurutnya, bantalan fiskal masih nampak karena cadangan devisa pada akhir Februari 2026 tercatat US$151,9 miliar setara 6,1 bulan impor, sementara pemerintah masih menjaga agar defisit fiskal 2026 akan tetap dijaga kurang dari 3% terhadap PDB.
Bahkan di tengah tekanan pasar, lelang surat utang negara 31 Maret tetap mencatat penawaran masuk Rp58,22 triliun dan pemerintah menyerap Rp40 triliun yang menunjukkan kepercayaan investor belum hilang.
“Jadi, cara menjaga rupiah bukan hanya dengan masuk ke pasar valuta asing, tetapi juga dengan menjaga keyakinan bahwa Indonesia tetap punya bantalan cadangan devisa, disiplin fiskal, dan koordinasi kebijakan yang kuat,” ungkap dia.
Bila ketegangan geopolitik mulai mereda, ruang penguatan rupiah masih terbuka, sebagaimana terlihat saat sinyal meredanya konflik langsung menekan dolar dan memperbaiki sentimen pasar global.
Rupiah Ditutup Melemah
Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 0,12% tertahan di Rp17.000/US$ pada perdagangan spot Kamis (2/4/2026), di tengah kondisi ketidakpastian perang Timur Tengah. Hari ini menjadi perdagangan terakhir selama sepekan, karena besok pasar tutup memperingati Jumat Agung.
Menguatnya indeks dolar AS sebesar 0,44% ke level 100 kembali menghantam mata uang di kawasan. Yen Jepang tergerus 0,49% disusul ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing melemah 0,32%, dolar Singapura 0,27%, yuan offshore 0,25%, yuan China 0,25%, won Korea Selatan 0,16%, rupiah 0,12%, dan dolar Taiwan 0,1%.
Sebaliknya, rupee India melesat 2,09% dan dolar Hong Kong stagnan dengan sedikit perubahan 0,01%.
(lav)




























