Di BEI, terdapat sejumlah emiten terkait emas. Mereka adalah PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT J Resources Indonesia Tbk (PSAB), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS),
Pada perdagangan siang ini, berikut laju saham emiten–emiten tersebut, Rabu.
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melesat 16,51% ke posisi Rp2.540
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) melesat 15,21% di posisi Rp530
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menguat 9,45% ke posisi Rp1.505
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melejit 7,14% ke posisi Rp3.750
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melejit 6,84% ke posisi Rp780
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 5,1% ke posisi Rp3.300
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menguat 2,12% di posisi Rp8.360
Sentimen Pendorong Harga Emas
Melansir Bloomberg News, kantor berita resmi Iran melaporkan adanya percakapan telepon antara Presiden Uni Eropa Antonio Costa dan Presiden Masoud Pezeshkian, yang mengatakan– Republik Islam Iran memiliki “Kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri perang ini,” namun hanya dengan jaminan “untuk mencegah terulangnya agresi.”
Senada dengan kelegaan tersebut, Donald Trump menuturkan seteru dengan Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan akan terselesaikan. Ia menyatakan– AS telah mencapai sebagian besar tujuan militernya dan akan menyerahkan penyelesaian krisis Selat Hormuz kepada negara–negara lain.
“Saya pikir dalam dua minggu, mungkin dua minggu, mungkin tiga,” ujar Trump kepada jurnalis di Gedung Putih pada Selasa setempat.
“Kami akan pergi karena tidak ada alasan bagi kami untuk terus melakukan ini,” tutur Trump.
Harga emas saat ini, secara lebih luas, datang dari penurunan harga minyak yang berangsur–angsur mereda. Siang hari ini, berdasarkan data Bloomberg, harga minyak jenis Brent tengah berada di US$99,62/barel.
Alhasil, pasar global bisa merasa lebih lega dari risiko kenaikan harga energi. Inflasi diprediksi bisa melandai sehingga membuat Bank Sentral di berbagai negara bisa memperhitungkan ulang kebijakan moneter yang longgar.
Prospek penurunan suku bunga acuan kembali mulai terlihat, biarpun masih sedikit, membuat emas jadi menarik (lagi). Sebab, emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) sehingga akan lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
Secara teknikal, emas sejatinya berpeluang naik lebih tinggi lagi di zona bullish. Tercermin dari chart Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 75. RSI di atas 50 sinyal suatu aset sedang dalam posisi bullish.
Adapun target kenaikan terdekat harga emas ada di US$4.817/troy ons. Jika berhasil break, maka ada kemungkinan harga emas naik lagi menuju US$5.377/troy ons. Sementara support nya saat ini adalah US$4.575/troy ons.
(fad)




























