Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ambles hingga Rp17.600/US$, Ini Dampaknya bagi Masyarakat

Mis Fransiska Dewi
18 May 2026 11:19

Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tergerus 0,6% ke level Rp17.570/US$ pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Tak lama berselang, rupiah melanjutkan pelemahannya 0,83% ke posisi Rp17.610/US$ yang merupakan posisi terlemah sepanjang sejarah.

Lalu, apa dampak pelemahan rupiah yang dalam terhadap aktivitas masyarakat?

Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafni memaparkan meskipun masyarakat tidak bertransaksi menggunakan dolar AS, namun struktur input produksi dan konsumsi mereka sangat bergantung pada barang yang harganya dikunci oleh dolar, seperti komoditas global.


"Pelemahan rupiah bertindak sebagai pajak tersembunyi bagi masyarakat melalui tiga jalur utama yaitu sektor pupuk, input pertanian, dan Bahan Bakar Minyak (BBM), atau inflasi impor (imported inflation)," ujar Rahma kepada Bloomberg Technoz, Senin (18/5/2026). 

Dia menggambarkan, industri pupuk nasional, terutama NPK sangat bergantung pada bahan baku impor seperti Rock Phosphate dan Kalium Klorida (KCl) yang tidak tersedia di dalam negeri.