Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Lemas, Pasar Obligasi Ikut Memanas

Redaksi
18 May 2026 10:28

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah kembali jatuh ke level terendah sepanjang sejarah di perdagangan spot pagi ini, Senin (18/5/2026). Mata uang Tanah Air melemah 1,13% ke posisi Rp17.662/US$ pada 10:12 WIB.

Ini menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah Indonesia merdeka. 

Pergerakan rupiah setahun terakhir, hari ini kembali menyentuh posisi terendahnya (18/5/2026). (Bloomberg)

Pergerakan rupiah pagi ini tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan harga minyak dunia yang terus memicu kekhawatiran pelaku pasar. Harga minyak mentah jenis Brent kembali bertengger di US$111,24 per barel pada 10:00 WIB, dan membuat indeks dolar AS bertahan di level tinggi 99,35. 


Di kawasan, rupiah menjadi mata uang yang terlemah akibat tekanan ganda yang datang dari sentimen eksternal yang datang dari kenaikan harga minyak dan kondisi domestik yang tercermin dari data-data perekonomian terbaru. 

Meski pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61%, tetapi sejumlah data pendukung seperti keyakinan konsumen dan data penjualan ritel belum mampu menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.