Logo Bloomberg Technoz

Ebola Jadi Darurat Global, RI Diminta Perkuat Screening Bandara

Dinda Decembria
18 May 2026 09:40

Petugas kenakan APD sebelum mengubur pasien diduga meninggal akibat Ebola di Mubende, Uganda. (Luke Dray/Getty Images via Bloomberg)
Petugas kenakan APD sebelum mengubur pasien diduga meninggal akibat Ebola di Mubende, Uganda. (Luke Dray/Getty Images via Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Epidemiolog Dicky Budiman meminta pemerintah Indonesia memperkuat pengawasan kesehatan di seluruh pintu masuk internasional menyusul status kedaruratan wabah Ebola di Uganda.

Menurutnya, langkah penutupan total perbatasan belum diperlukan, namun sistem skrining dan surveilans harus diperketat sejak dini.

Dicky mengatakan Indonesia perlu memastikan kualitas pengelolaan surveilans epidemiologi di pintu masuk internasional, baik di bandara, pelabuhan laut, hingga jalur migrasi pekerja dan jemaah haji maupun umrah. Pengawasan tersebut, kata dia, harus dilakukan secara konsisten terhadap pelaku perjalanan internasional yang berasal dari kawasan Afrika.


“Standar penguatan atau screening pintu masuk harus dijaga kualitas dan pengelolaannya,” kata Dicky dalam keterangannya, Senin (18/5).

Ia menjelaskan skrining berbasis risiko penting difokuskan pada riwayat perjalanan selama 21 hari terakhir, terutama bagi pelaku perjalanan yang mengalami gejala demam akut, perdarahan, atau memiliki kontak dengan pasien Ebola. Selain itu, penguatan kapasitas laboratorium di dalam negeri juga dinilai mendesak dilakukan.