Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat sumber pembiayaan domestik agar ketergantungan terhadap investor asing dapat dikurangi.
"Pendalaman pasar keuangan domestik, terutama memperbesar peran investor institusi lokal di pasar SBN, akan menjadi kunci utama. Dengan begitu, ketika investor global keluar sementara, pasar domestik masih memiliki 'shock absorber'," jelas Ronny.
Meski demikian, ia menilai tekanan di pasar keuangan saat ini lebih bersifat sentimen jangka pendek dan belum mencerminkan kekhawatiran terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
"Dalam bahasa sederhana, kalau modal asing sedang panik, jangan sampai pasar kita ikut panik juga, karena fondasi ekonominya sebenarnya masih cukup oke," terangnya.
Sebagai catatan saja, nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pagi ini dibuka stagnan, seiring dengan melemahnya indeks dolar AS terhadap enam mata uang dunia.
Pada Kamis (5/3/2026), nilai kontrak rupiah dibuka sama dengan posisi penutupan kemarin di Rp16.886/US$, menyusul lemahnya indeks dolar AS yang tergerus 0,29% ke posisi 98,76 setelah kemarin sempat berada di level 99.
Pergerakan mata uang di pasar Asia masih akan dipengaruhi oleh dinamika perang yang terjadi di Timur Tengah.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, dibuka menguat. Pada pukul 9.05, indeks mencatat kenaikan 184,57 poin atau setara dengan menguat 2,44% ke level 7.761.
Padahal IHSG sepanjang perdagangan kemarin, Rabu (5/3/2026), jatuh. Saham big caps yang selalu menjadi penopang IHSG justru dilanda aksi jual hingga mengurangi bobot IHSG cukup signifikan. IHSG lansung dibuka turun 0,53% ke level 7.897 kemarin. Penurunan berlanjut, bahkan sempat jatuh 5,71% ke level 7.486,32.
Jelang penutupan sore, IHSG memangkas penurunan hingga tersisa 4,57% ke level 7.577,06.
Di tengah tekanan tersebut, pasar juga dihadapkan pada sentimen tambahan setelah Fitch Ratings merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif dengan peringkat tetap di level BBB.
Revisi outlook tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal dan stabilitas makro ekonomi Indonesia, sehingga memperburuk sentimen di pasar keuangan domestik yang sebelumnya sudah tertekan oleh faktor global.
Pengumuman Fitch tersebut menjadi tekanan tambahan setelah sebelumnya IHSG terbebani sentimen depresiasi rupiah yang sempat tembus Rp17.000/US$.
(ell)





























