Logo Bloomberg Technoz

Kesepakatan Tarif RI-AS: Impor Meroket, Neraca Dagang Was-was

Mis Fransiska Dewi
20 February 2026 19:40

Duta Besar Greer menyatakan pengumuman Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Presiden Trump dengan Presiden Prabowo. (Dok. USTR)
Duta Besar Greer menyatakan pengumuman Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Presiden Trump dengan Presiden Prabowo. (Dok. USTR)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dipandang oleh ekonom berpotensi menaikkan impor produk pertanian, energi, hingga pesawat secara signifikan. Walhasil tekanan akan berpindah ke neraca perdagangan dan transaksi berjalan. 

“Artinya stabilitas jangka pendek mungkin terbantu, tetapi kualitas pembiayaan eksternal menjadi krusial karena kenaikan impor berisiko memengaruhi kurs, premi risiko, dan persepsi investor,” kata Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman saat dihubungi, Jumat (20/2/2026). 

Rizal memandang kesepakatan tarif AS sebagai risk containment ketimbang pendorong pertumbuhan baru. Menurutnya, penurunan tarif AS menjadi 19% dari 32% memang menahan potensi kontraksi ekspor Indonesia, terutama manufaktur padat karya. Namun tarif yang masih relatif tinggi membuat daya saing belum banyak berubah. 


Dia menilai bagian paling strategis justru pada pembukaan pasar domestik, termasuk relaksasi hambatan non-tarif dan ruang pajak digital. Secara teori, kondisi ini bisa menurunkan biaya input dan meningkatkan efisiensi, tetapi juga mempersempit ruang kebijakan industri dan perlindungan sektor yang belum siap bersaing, sehingga ada risiko deindustrialisasi prematur. 

“Karena itu ukuran keberhasilan bukan pada kesepakatan tarifnya, melainkan apakah Indonesia memperoleh transfer teknologi, investasi riil, dan peningkatan produktivitas,” tutur dia.

Artikel Terkait