Logo Bloomberg Technoz

Generasi Muda Waspada Ancaman Aritmia


Ilustrasi Jantung (Envato/LightFieldStudios)
Ilustrasi Jantung (Envato/LightFieldStudios)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Gaya hidup modern kini membawa konsekuensi kesehatan yang tidak bisa diabaikan, termasuk meningkatnya risiko penyakit jantung pada usia muda. Aritmia, yang dahulu identik dengan kelompok lanjut usia, kini semakin sering ditemukan pada remaja hingga dewasa muda. Kondisi ini menjadi perhatian serius kalangan medis karena sering kali tidak disadari sejak awal.

Aritmia merupakan gangguan irama jantung yang membuat detaknya menjadi tidak teratur. Detak bisa terlalu cepat atau takikardia, terlalu lambat atau bradikardia, bahkan tidak berirama sama sekali. Gangguan ini berkaitan erat dengan sistem kelistrikan jantung yang mengatur ritme denyut setiap menitnya.

Menurut dr. Rerdin Julario, Sp.JP(K) Aritmia dari Mayapada Hospital Surabaya, aritmia terjadi akibat gangguan pada sistem kelistrikan jantung. Dalam kondisi normal, jantung manusia berdetak sekitar 60 hingga 100 kali per menit saat beristirahat. Ketika sistem tersebut terganggu, ritme jantung dapat berubah dan memicu berbagai keluhan.

Faktor pemicu aritmia pada usia muda beragam. Salah satunya adalah ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium, magnesium, atau kalsium. Kondisi ini bisa terjadi akibat dehidrasi, kurang asupan nutrisi, maupun gangguan makan yang kerap dialami anak muda dengan pola diet tidak sehat.

Selain itu, terdapat faktor kelainan jantung bawaan. Beberapa di antaranya adalah sindrom Wolf Parkinson White atau WPW dan sindrom QT panjang. “Keduanya merupakan gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung sangat cepat dan tidak beraturan,” terang dr. Rerdin.

Gangguan tiroid juga menjadi faktor penting yang kerap luput dari perhatian. Hipertiroidisme atau kelebihan hormon tiroid dapat mempercepat detak jantung, sedangkan hipotiroidisme justru memperlambat irama jantung. Perubahan hormon ini berdampak langsung pada kestabilan sistem kardiovaskular.

Pola hidup tidak sehat semakin memperburuk risiko aritmia pada generasi muda. Kurang tidur, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres kronis, serta gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik berkontribusi terhadap gangguan irama jantung. Kombinasi faktor ini membuat risiko semakin meningkat.

Gejala Kerap Diabaikan dan Perlu Deteksi Dini

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan aritmia adalah gejalanya yang sering ringan dan tidak khas. Banyak penderita tidak menyadari adanya gangguan hingga kondisi memburuk. Padahal deteksi dini sangat menentukan keberhasilan terapi.

“Sayangnya, aritmia sering tidak disadari karena gejalanya ringan, seperti detak jantung tidak teratur, dada berdebar, pusing, atau mudah lelah. Jika muncul keluhan, segera lakukan pemeriksaan seperti EKG untuk memastikan diagnosis dan penanganan yang tepat. Pencegahan dapat dilakukan dengan pola hidup sehat: membatasi kafein, cukup tidur, mengelola stres, menghindari obat stimulan tanpa resep, makan bergizi, dan rutin memeriksakan jantung, terutama bila ada riwayat penyakit jantung,” jelas dr. Rerdin.

Pemeriksaan EKG menjadi salah satu metode awal untuk memastikan diagnosis. Dengan rekam jantung tersebut, dokter dapat menilai pola irama dan menentukan langkah penanganan yang sesuai. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang mencegah komplikasi serius.

Melihat tren peningkatan gangguan jantung pada usia produktif, Mayapada Hospital Surabaya memperkuat layanan melalui Heart and Vascular Center. Pendekatan yang diterapkan bersifat kolaboratif dan komprehensif, mencakup pencegahan hingga rehabilitasi pasien.

Tiga pilar utama menjadi fondasi layanan tersebut. Advanced Treatment menghadirkan penanganan gangguan pembuluh darah, aritmia, serta kelainan struktur jantung seperti penyakit katup dengan pendekatan medis terkini. Seluruh prosedur dilakukan dengan teknologi mutakhir dan tim berpengalaman.

Pilar berikutnya adalah Emergency Excellence melalui layanan Cardiac Emergency. Dokter spesialis tersedia 24 jam standby on-site dan dapat diakses melalui call center 150990 maupun fitur Emergency Call di MyCare. Tersedia pula Chest Pain Unit untuk mendeteksi nyeri dada secara cepat dan akurat.

Team-Based Management melengkapi pendekatan ini dengan kolaborasi aktif dalam Cardiac Board. Tim terdiri dari spesialis jantung, bedah toraks kardiovaskular, anestesi kardiovaskular, hingga jantung anak. Setiap keputusan klinis ditetapkan bersama untuk memastikan terapi paling tepat.

Pendekatan multidisiplin ini memungkinkan berbagai tindakan dilakukan secara optimal. Mulai dari Coronary Angiography, Percutaneous Coronary Intervention termasuk Complex PCI, hingga penanganan gangguan katup dan vaskular jantung dapat dilakukan secara terintegrasi.

Penanganan aritmia dan terapi gagal jantung lanjut juga didukung teknologi alat bantu pompa jantung Left Ventricular Assist Device. Fasilitas ini memperluas opsi terapi bagi pasien dengan kondisi berat. Seluruh proses didampingi Cardiac Advisor yang membantu pasien dan keluarga memahami setiap tahapan medis.

Selain layanan klinis, edukasi kesehatan juga diperkuat melalui aplikasi MyCare. Fitur Health Articles and Tips menyediakan informasi terkini seputar kesehatan jantung. Fitur Personal Health terhubung dengan Google Fit dan Health Access untuk memantau detak jantung, kalori, langkah, serta Body Mass Index.

Langkah komprehensif ini menegaskan pentingnya kesadaran generasi muda terhadap kesehatan jantung. Aritmia bukan lagi ancaman tersembunyi bagi usia lanjut semata, melainkan risiko nyata di tengah gaya hidup modern. Pencegahan, deteksi dini, dan penanganan tepat menjadi kunci menjaga kualitas hidup jangka panjang.