Logo Bloomberg Technoz

Serangan Jantung Butuh Respons Cepat dan Tepat


Ilustrasi pengecekan jantung. (Envato/ DC_Studio)
Ilustrasi pengecekan jantung. (Envato/ DC_Studio)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Serangan jantung masih menjadi salah satu kondisi kegawatdaruratan medis yang paling berisiko dan membutuhkan penanganan segera. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah yang memasok jantung mengalami penyumbatan, sehingga aliran darah dan oksigen ke jaringan jantung terhenti. Dampaknya, otot jantung dapat mengalami kerusakan serius apabila tidak segera ditangani.

Ilustrasi yang kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi ini adalah jalan raya utama yang tiba-tiba tertutup total. Ketika aliran terhenti, kemacetan tidak terhindarkan. Hal serupa terjadi pada tubuh manusia saat pembuluh darah jantung tersumbat, di mana jaringan jantung mulai terganggu akibat kekurangan oksigen.

Menurut dr. Jeffrey D. Adipranoto, Sp.JP (K), FIHA, FESC, FSCAI dari Mayapada Hospital Surabaya, tantangan terbesar dalam penanganan serangan jantung adalah variasi gejalanya. Banyak pasien tidak menyadari tanda awal sehingga terlambat mendapatkan pertolongan medis.

“Pasien dapat merasakan dada terasa berat atau tertekan, nyeri yang menjalar ke lengan kiri, rahang, atau punggung, disertai sesak napas, mual, dan keringat dingin. Karena gejalanya tidak selalu khas, banyak pasien datang ke rumah sakit saat kondisinya sudah lebih berat,” tuturnya.

Gejala yang tidak selalu spesifik ini membuat serangan jantung kerap disalahartikan sebagai keluhan ringan. Padahal, keterlambatan penanganan dapat berdampak langsung pada luasnya kerusakan jaringan jantung dan meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang.

Dalam konteks serangan jantung, waktu memegang peranan sangat krusial. Semakin cepat sumbatan pada pembuluh darah jantung dibuka, semakin besar peluang jaringan jantung dapat diselamatkan. Fase kritis ini dikenal sebagai golden period, yakni jam-jam pertama sejak serangan terjadi.

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya merespons gejala sejak awal menjadi faktor penentu keselamatan pasien. Penanganan yang dilakukan dalam golden period terbukti mampu menurunkan angka kematian serta memperbaiki kualitas hidup pasien setelah serangan jantung.

Golden Period dan Strategi Penanganan

Dr. Jeffrey menjelaskan bahwa terapi serangan jantung disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan tingkat keparahan sumbatan pembuluh darah. Penanganan tidak bersifat tunggal, melainkan dilakukan secara bertahap dan terukur sesuai kebutuhan medis.

“Penanganan serangan jantung umumnya diawali dengan pemberian obat-obatan darurat untuk menstabilkan kondisi pasien. Selanjutnya, dokter dapat melakukan tindakan kateterisasi jantung untuk membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat. Pada beberapa kasus sumbatan berat, prosedur bypass jantung atau Coronary Artery Bypass Graft (CABG) mungkin diperlukan. Semua tindakan ini bertujuan untuk mengembalikan aliran darah ke otot jantung secepat mungkin, sehingga kerusakan jaringan jantung dapat dibatasi dan risiko komplikasi diminimalkan,” ungkap dr. Jeffrey.

Pendekatan medis yang cepat dan tepat bertujuan menjaga fungsi jantung agar tetap optimal. Semakin lama jaringan jantung kekurangan oksigen, semakin besar risiko terjadinya gagal jantung atau gangguan irama jantung di kemudian hari.

Menyadari urgensi tersebut, fasilitas layanan kesehatan dituntut memiliki sistem penanganan kegawatdaruratan jantung yang siap setiap saat. Kesiapan sumber daya manusia, teknologi medis, serta alur layanan yang terintegrasi menjadi kunci keberhasilan penanganan serangan jantung.

Untuk mendukung penanganan kasus kegawatdaruratan jantung, Mayapada Hospital melalui Cardiovascular Center menyediakan layanan Cardiac Emergency 24/7. Layanan ini didukung oleh tim dokter spesialis dan subspesialis yang siaga secara on-site untuk merespons kondisi darurat dengan cepat.

Masyarakat dapat mengakses layanan darurat ini melalui nomor 150990 atau menggunakan tombol Emergency Call di aplikasi MyCare. Pada kasus serangan jantung, tindakan darurat dilakukan sesuai standar internasional, termasuk Primary PCI dengan target Door-to-Balloon kurang dari 90 menit.

Selain layanan darurat, Mayapada Hospital juga mengembangkan Chest Pain Unit sebagai layanan preventif. Unit ini berperan dalam deteksi dini gangguan jantung secara cepat dan akurat melalui kolaborasi tim multidisiplin.

Pasien dengan keluhan nyeri dada dapat menjalani skrining awal. Apabila hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya gangguan jantung, pasien dapat menjalani pemeriksaan gratis. Sementara itu, pasien dengan indikasi masalah jantung akan segera dirujuk untuk penanganan lanjutan tanpa penundaan.

Sejalan dengan penguatan layanan jantung, Mayapada Hospital Surabaya menghadirkan Heart & Vascular Center Surabaya sebagai pusat layanan jantung terpadu. Layanan ini menangani seluruh spektrum perawatan jantung, mulai dari pencegahan dan skrining hingga terapi lanjutan untuk kasus kompleks.

Heart & Vascular Center Surabaya dibangun dengan tiga pilar utama, yaitu Comprehensive, Advance Treatment, dan Team-Based Management. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan jantung yang menyeluruh, terkoordinasi, dan berkualitas tinggi.

Selama proses perawatan, pasien akan didampingi oleh Cardiac Advisor. Peran ini membantu pasien memahami setiap tahapan layanan, mendapatkan arahan ke subspesialis yang tepat, serta memastikan koordinasi antar tim medis berjalan optimal.

Fasilitas ini juga dilengkapi teknologi medis terkini, seperti Coronary Angiography, tindakan complex PCI, hingga penggunaan Left Ventricular Assist Device. Layanan Heart & Vascular Center Surabaya mulai beroperasi pada Februari 2026 di Lantai 8 Mayapada Hospital Surabaya.

Sebagai bagian dari upaya edukasi berkelanjutan, informasi seputar kesehatan jantung dari dokter Mayapada Hospital dapat diakses melalui aplikasi MyCare pada fitur Health Articles & Tips. Masyarakat juga dapat memantau kebugaran tubuh melalui fitur Personal Health untuk menghitung detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, dan Body Mass Index.

Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai gejala, waktu penanganan, dan ketersediaan layanan, serangan jantung tidak lagi harus berakhir fatal. Respons cepat dan sistem layanan yang terintegrasi menjadi kunci utama dalam menyelamatkan nyawa dan menjaga kualitas hidup pasien.