Singgih memandang China dan India akan sangat menjaga harga emas hitam tersebut agar tak terlalu melonjak tinggi, guna melindungi kepentingan sektor manufaktur dalam negeri.
“Atas kondisi peta proyeksi kondisi industri global, dapat dipastikan China dan India, akan terus berupaya memainkan dan mengelola agar batu bara tidak akan naik tajam, untuk kepentingan menjaga biaya energi dalam menggerakkan sektor manufakturnya,” tegas Singgih.
Meskipun begitu, dia tetap meyakini pemangkasan produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton dapat membuat pengawasan tata kelola industri pertambangan di Indonesia menjadi semakin baik.
“Terpenting bagi kepentingan nasional, dengan pemangkasan produksi menjadi 600 juta ton, tentu prosentasi DMO atas produksi nasional menjadi naik [menyesuaikan target produksi]. Dan yang harus dijaga keamanan pasokan batu bara di dalam negeri, khususnya untuk kebutuhan kelistrikan umum tetap terjaga,” papar dia.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan target produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 akan dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton, lebih rendah dari target tahun lalu sebanyak 735 juta ton.
Bahlil menegaskan belum menetapkan angka target produksi batu bara pada tahun ini, tetapi dia menyatakan dalam RKAB 2026 target produksi akan berada di sekitar 600 juta ton.
“Urusan RKAB, Pak Dirjen Minerba lagi menghitung. [Hal] yang jelas di sekitar 600 juta. Kurang lebih. Bisa kurang, bisa lebih dikit,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Kinerja Kementerian ESDM, Kamis (8/1/2026).
Bahlil berharap pemangkasan produksi yang akan dilakukan Indonesia dapat mengerek harga batu bara ke depannya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil turut mengungkapkan produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton.
Realisasi produksi batu bara itu anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sebesar 836 juta ton. Kendati demikian, produksi itu lebih tinggi dari target yang dipatok tahun ini sebesar 739,6 juta ton.
“Saya harus jelaskan dalam forum ini agar tidak ada simpang siur, total produksi batu bara kita di 2025 sebesar 790 juta ton,” kata Bahlil.
Bahlil menerangkan sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi.
Sementara itu, realisasi penyaluran batu bara untuk pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) mencapai 254 juta ton atau 32%.
Stok batu bara yang dicadangkan sampai akhir 2025 sebesar 22 juta ton atau 2,8% dari keseluruhan produksi tambang.
Di sisi lain, PNBP dari sektor ESDM–khususnya tambang atau minerba—sepanjang 2025 mencapai Rp138,37 triliun.
Realisasi tersebut setara dengan 108,56% di atas target Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun lalu yang senilai Rp127,44 triliun.
(azr/wdh)






























