Fakta Perbankan: Likuiditas Berlimpah tapi Kredit Belum Optimal
Pramesti Regita Cindy
27 February 2026 18:20

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah pekerjaan rumah besar sektor perbankan di tengah kondisi likuiditas yang longgar. Meski ketahanan sistem keuangan dinilai sehat, penyaluran kredit disebut belum mencapai level optimal, seperti disampaikan Deputi Senior BI Destry Damayanti.
Meski industri perbankan berada dalam kondisi kuat dengan beberapa indikator - seperti rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 25,9%, atau alat likuid perbankan tercatat sebesar 27,6% - demikian, tingginya likuiditas tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ekspansi kredit yang optimal.
BI masih melihat adanya kesenjangan (gap) baik pada level output ekonomi (GDP gap) maupun kredit perbankan. "Artinya walaupun likuiditas banyak-banyak tapi memang pertumbuhan kredit itu belum mencapai pada level yang optimal," terang Destry, Jumat (27/2/2026).
Sehingga, untuk mendorong intermediasi, BI mengandalkan kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Sejak diberlakukan dua tahun terakhir, hingga Februari 2026 insentif yang telah digelontorkan melalui skema tersebut mencapai Rp427,5 triliun.
Melalui kebijakan ini, bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas dan inklusi mendapatkan pelonggaran giro wajib minimum (GWM). Dalam kondisi normal, GWM berada di level 9%, namun bagi bank yang memenuhi kriteria, GWM efektif bisa turun menjadi 3,5%. Artinya, terdapat tambahan likuiditas sebesar 5,5% yang dapat dimanfaatkan bank untuk ekspansi.






























