Jika hari ini berhasil finis di zona hijau, maka Dollar Index resmi menguat tiga hari beruntun.
Namun meski naik, gerak Dollar Index sepertinya masih relatif terbatas. Sebab, secara umum sentimen negatif masih membayangi langkah mata uang Negeri Adidaya.
Setelah sempat tertunda akibat penutupan sementara (shutdown) pemerintahan AS, Bureau of Labor Statistics dijadwalkan untuk merilis data inflasi akhir pekan ini. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperkirakan inflasi inti pada September akan berada di 0,3% secara bulanan. Secara tahunan, laju inflasi inti diperkirakan 3,1%.
“Inflasi inti pada September mungkin akan sedikit melambat karena penurunan harga karena dampak kenaikan tarif bea masuk sudah mereda. Namun harga energi sepertinya akan mendongkrak inflasi umum,” kata Oscar Munoz dari TD Securities, seperti diwartakan Bloomberg News.
Data inflasi September sepertinya akan meneguhkan keyakinan pelaku pasar bahwa Bank Sentral Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga acuan dalam rapat bulan ini. Berdasarkan CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% mencapai 99,4%.
Saat suku bunga turun, berinvestasi di aset-aset berbasis dolar AS menjadi kurang menarik.
(aji)




























