Logo Bloomberg Technoz

Adapun, Korea Selatan cukup stabil dengan yield berada di 3,94%, diikuti Thailand 2,04% dan Taiwan 1,93%, China stabil di 1,58%.

Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun juga ikut turun ke 7,67%, begitu juga obligasi India terpangkas jadi 7,18%. Bahkan, yield INDON (obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS) terpangkas secara merata. Yield tenor 10 tahun turun 2,6 bps jadi 5,92%, diikuti tenor 7 tahun turun 2,6 bps jadi 5,73%. Begitu juga tenor pendek 2 tahun, ikut turun 0,7 bps jadi 4,94% dan tenor 3 tahun turun 2,3 bps jadi 4,99%. 

Reli di pasar obligasi itu dipicu oleh ekspektasi bahwa kendali Partai Demokrat akan menciptakan kebuntuan politik (political gridlock) antara Kongres dan Gedung Putih. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang pemerintahan Trump yang selama ini cenderung melahirkan kebijakan destruktif. 

Selain itu, kemenangan Partai Demokrat juga berpotensi mendorong agenda pemangkasan pajak serta menahan laju ekspansi belanja pemerintah. Dengan begitu, kekhawatiran soal naiknya penerbitan utang untuk mengongkosi defisit anggaran jadi sedikit mereda. 

Untuk diketahui, pasar selama ini menaruh perhatian besar terhadap prospek fiskal AS, terutama di tengah besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah dan naiknya pasokan US Treasury. 

Di sisi lain, sentimen positif yang sedang meliputi pasar obligasi juga diperkuat oleh turunnya harga minyak mentah yang merosot lebih dari 8% ke level US$94/barel, menjadi level penutupan terendah sejak akhir Agustus. 

Turunnya harga minyak menunjukkan bahwa ekspektasi pasar berubah soal konflik Timur Tengah, setelah kemenangan Demokrat. Dengan kemenangan itu, muncul spekulasi bahwa kemungkinan ada perubahan pendekatan politik Washington terhadap perang Iran. 

(dsp/aji)

No more pages