Logo Bloomberg Technoz

Aksi Jual di Pasar Saham Dorong Rupiah ke Zona Merah

Tim Riset Bloomberg Technoz
04 November 2026 15:30

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Tekanan terhadap rupiah yang sepanjang hari ini, Rabu (4/11/2026), sempat terbendung akhirnya pecah juga. Mata uang Ibu Pertiwi menutup perdagangan dengan pelemahan nyaris 0,1% ke Rp18.165/US$. 

Pelemahan rupiah terjadi dipicu oleh aksi jual di pasar saham, yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup Sesi I di zona merah, turun 0,88% ke level 4.860. 

Pergerakan rupiah dalam satu bulan terakhir, hingga Rabu (4/11/2026). (Bloomberg)

Sementara di pasar surat utang, meskipun aksi beli terjadi dengan adanya penurunan yield di sebagian besar tenor pendek-menengah 2 tahun hingga 6 tahun, tetapi tenor acuan dan tenor panjang masih mencatat kenaikan yield. Artinya, masih ada aksi jual. 


Selain itu, investor domestik diperkirakan masih lebih dominan menopang pasar obligasi pemerintah. Tercermin dari data kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) awal November yang mencatat institusi perbankan mengempit lebih banyak obligasi pemerintah senilai Rp1.023,15 triliun. Sementara non-residen 'hanya' Rp894,09 triliun, turun 0,35% dari posisi akhir Oktober.

Dari sisi eksternal, sebenarnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) sudah lebih jinak, dan turun ke posisi 101,42. Hal ini pula yang menggiring mayoritas mata uang Asia ke zona hijau.