Logo Bloomberg Technoz

Won Korea Selatan menguat bersama yen Jepang, baht Thailand, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong. Sebaliknya, dolar Taiwan melemah bersama yuan China, rupiah, peso Filipina, yuan offshore dan rupee India. 

Rupiah dan mata uang Asia melemah. (Bloomberg)

Penguatan mata uang Asia juga ditopang oleh gerak yield di pasar obligasi global. Sebagian besar negara mencatat penurunan yield, sejalan dengan yield US Treasury yang terpangkas 4,3 basis poin (bps) jadi 4,91%. 

Sore ini, yield obligasi Thailand turun 0,3 bps jadi 2,04%, diikuti Korea Selatan turun 4,4 bps jadi 3,94%, dan Malaysia turun 1,9 bps jadi 3,8%. Begitu juga dengan Singapura turun 2,3 bps jadi 2,15%.

Sebaliknya, yield obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun kembali naik 0,3 bps ke 7,72%. 

Data ekonomi yang rilis awal bulan ini sebenarnya cukup mendukung penguatan aset rupiah. Inflasi terjaga bahkan di bawah perkiraan ekonom, sektor manufaktur terlihat mulai bergeliat dengan PMI Manufaktur naik ke 54 dari 52, dan surplus perdagangan yang masih terjaga. 

Sayangnya, risiko domestik kembali bertambah setelah mencuatnya dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Faktor politik dan risiko tata kelola ini berpotensi meningkatkan premi risiko Indonesia dan membuat investor lebih berhati-hati, dan menggenapi sentimen klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, yang belum pulih. 

Selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati data pertumbuhan ekonomi domestik kuartal III-2026. Berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg, ekonomi kuartal lalu diperkirakan tumbuh 5,2%. Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data tersebut besok (5/11/2026). 

(dsp/aji)

No more pages