Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Terjepit Tekanan Global dan Gejolak Politik Domestik

Tim Riset Bloomberg Technoz
04 November 2026 07:52

Sejumlah uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sejumlah uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah spot hari ini diperkirakan kembali tertekan setelah berhasil defensif kemarin. Data realtime Bloomberg, Rabu (4/11/2026), menunjukkan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) defensif di kisaran Rp18.160/US$, merespons penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di 101,89. 

Ekspektasi era suku bunga tinggi bertahan lebih lama juga rupanya mulai menyengat pasar pendapatan tetap. Pagi ini, pasar obligasi global kembali melemah ditandai dengan naiknya imbal hasil (yield).

Yield US Treasury naik 5, basis poin (bps) jadi 4,62%, diikuti sebagian besar negara seperti Inggris (+6,9 bps) jadi 5,25%, Prancis naik 5,1 bps jadi 4,94%, Jerman 3,8 bps ke 3,32%. 


Serupa, aset obligasi negara kawasan Asia Pasifik juga mulai terungkit. Obligasi Thailand mengalami kenaikan yield ke 2,04%, diikuti Singapura juga naik 0,7 bps jadi 2,18%, dan Jepang naik 0,7 bps jadi 2,76%.

Pasar obligasi Indonesia juga mengalami kenaikan yield, ditandai dengan tenor 10 tahun naik ke 7,72%. Disusul tenor 1 tahun naik 1,1 bps jadi 7,06%, serta tenor 5 tahun naik 0,2 bps jadi 7,57%.