Logo Bloomberg Technoz

Kondisi ini membantu menjaga ketersediaan pasokan di pasar minyak fisik sekaligus menstabilkan harga pada momen kritis. 

Tingginya harga bahan bakar, seperti bensin dan diesel, saat ini tengah membebani konsumen, memicu inflasi, serta menimbulkan risiko politik bagi Presiden Donald Trump menjelang Pemilu sela.

Arab Saudi memimpin lonjakan terbaru ini, dengan meningkatkan volume ekspor menjadi 7 juta barel per hari pada Oktober, naik 13% dibandingkan bulan sebelumnya. Data ini diperoleh dari kombinasi pelacakan kapal tanker, citra satelit, serta angka dari Kpler dan Vortexa.

Kementerian Energi Arab Saudi belum menanggapi permintaan komentar.

Meski harga minyak mentah berjangka sempat turun pada Senin karena, baik Washington maupun Teheran, mengisyaratkan bahwa mereka mungkin akan terus mencari penyelesaian diplomatik, kekhawatiran akan eskalasi militer baru tetap menjaga harga pasar tetap tinggi. Kontrak Brent diperdagangkan mendekati US$106 per barel.

Mengejar Ketertinggalan

Setelah sempat tertinggal dari UEA selama sebagian besar masa konflik, ekspor Arab Saudi mulai meningkat ketika pemimpin OPEC tersebut meningkatkan aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Langkah ini diambil sebagai respons atas penutupan sementara jalur pipa alternatif Timur-Barat akibat serangan pada September yang dilancarkan dari Irak.

Dengan kembali beroperasinya jalur pipa Timur-Barat, Arab Saudi kini dapat memanfaatkan rute tradisional melalui Teluk Persia maupun jalur alternatif melalui Laut Merah. 

Pekan lalu, citra satelit dari wahana antariksa Sentinel-2 milik Uni Eropa memperlihatkan sembilan kapal tanker raksasa (supertanker) sedang berlabuh di dermaga-dermaga Arab Saudi di Teluk Persia—indikasi percepatan aktivitas pemuatan minyak yang cukup signifikan.

Pada Oktober, sebagian besar peningkatan ekspor berasal dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah, di mana volume ekspor melonjak sebesar 35% menjadi 3,07 juta barel per hari.

Pemantauan lalu lintas kapal tanker masih terkendala karena banyak kapal menonaktifkan transponder mereka guna menghindari deteksi dan serangan; ini berarti volume minyak yang dikirim bisa jadi lebih besar daripada yang terpantau saat ini.

Data menunjukkan kenaikan terbesar kedua bulan lalu berasal dari Irak, yang meningkatkan volume ekspor sebesar 9,5% menjadi 3,35 juta barel per hari—mendekati level sebelum perang.

Pengiriman meningkat dari pelabuhan Basrah di wilayah selatan, dan hampir dua kali lipat melalui rute utara via Turki. Bulan lalu, pemerintah Irak menyatakan tingkat ekspor mereka telah mendekati angka sebelum perang.

Aliran minyak dari UEA, yang telah memicu lonjakan beberapa bulan sebelum negara-negara Teluk lainnya, naik tipis sebesar 50.000 barel per hari, mencapai rata-rata 3,74 juta barel per hari, angka tertinggi sejak Juli.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), produksi minyak negara tersebut mencapai rekor baru pada September.

Dalam konferensi di Abu Dhabi pada Senin, Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei mengungkap bahwa ekspor minyak negaranya sempat melampaui level sebelum perang pada "waktu-waktu tertentu" selama konflik berlangsung, tanpa merinci berapa banyak yang saat ini diekspor.

Kuwait meningkatkan ekspornya sebesar sepertiga pada Oktober, mencapai level tertinggi sejak sebelum perang pecah, dengan mengirimkan 1,44 juta barel per hari menggunakan armada kapal tanker yang terus bertambah. Data ini diperoleh dari sistem pelacakan kapal tanker dan Kpler. 

Perusahaan minyak negara Kuwait bulan lalu menyatakan bahwa volume ekspor telah kembali ke sekitar level sebelum konflik.

Selain memulihkan volume penjualan dan pendapatan yang terdampak perang, ketiga negara Teluk yang masih menjadi anggota OPEC mungkin memiliki insentif tambahan untuk memaksimalkan ekspor, seiring para anggota organisasi tersebut bersiap untuk menegosiasikan target produksi 2027.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) beserta sekutunya saat ini sedang meninjau kapasitas produksi aktual setiap negara anggota, dengan tujuan menyesuaikan kuota saat para menteri bertemu pada 29 November.

Iran menjadi pengecualian yang mencolok. Berdasarkan data pelacakan kapal tanker, tidak ada ekspor minyak mentah maupun kondensat—sejenis minyak light—yang terdeteksi selama dua bulan berturut-turut, seiring AS terus memberlakukan blokade.

Citra satelit dari wahana antariksa Sentinel 1 dan Sentinel 2 milik Uni Eropa menunjukkan tidak adanya aktivitas pemuatan di dermaga Pulau Kharg serta terminal ekspor Soroosh dan Jask pada Oktober.

Namun, gambaran tersebut mungkin belum lengkap. Sebagian besar kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Iran tidak mengirimkan sinyal posisi saat berada di Teluk Persia, sehingga mempersulit pelacakan kapal-kapal tersebut saat melintasi Selat Hormuz.

(bbn)

No more pages