Biaya logistik tersemat dalam semua harga komoditas pangan yang diproduksi di satu daerah dan harus dikirim ke wilayah lain melalui kombinasi truk, kapal, dan kendaraan distribusi lainnya.
Ketika harga bahan bakar meningkat, biaya logistik dapat muncul berulang kali dalam setiap tahapan pengiriman itu. Tak heran jika angka inflasi terjadi lebih tinggi di daerah yang lebih jauh.
BPS melaporkan inflasi tertinggi pada tingkat provinsi terjadi di Maluku Utara sebesar 5,28%, Aceh 4,86%, Sumatera Utara 3,23%.
Sedangkan wilayah yang dekat dengan pusat produksi dan distribusi seperti pulau Jawa umumnya mengalami inflasi lebih rendah dibandingkan daerah lainnya yang terpisah oleh laut.
Inflasi di DKI Jakarta hanya 2,72%, lebih rendah dari inflasi nasional yang 3,19%, disusul Banten 2,95%, dan DI Yogyakarta 3,07%. Sedangkan Jawa Timur masih cukup tinggi 3,32%, dan Jawa Barat 3,12%.
Memang, capaian angka inflasi di daerah tersebut tak sepenuhnya didorong oleh biaya logistik yang harus dibayar. Akan tetapi, kenaikan harga minyak mentah dapat merembet pada kenaikan biaya bahan bakar, yang pada akhirnya membuat biaya transportasi dan biaya logistik menjadi naik.
Rantai transmisi ini juga berlaku untuk barang manufaktur. Bahan baku yang harus dipindah dari atau menuju pusat produksi akan menghadapi biaya logistik lebih tinggi.
Setelah barang selesai diproduksi, produk itu akan kembali membutuhkan biaya untuk didistribusikan menuju gudang, pusat perdagangan, hingga sampai ke tangan konsumen.
Biaya Logistik RI Paling Mahal
Indonesia tercatat sebagai negara dengan biaya logistik paling mahal di Asia Tenggara, dengan total biaya setara dengan 23% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Posisi ini berada di atas rata-rata biaya logistik negara-negara Asia Tenggara lainnya, yang hanya 8% hingga 10% saja terhadap PDB.
Berdasarkan laporan Logistic Performance Index keluaran Bank Dunia, Indonesia berada di posisi ke-61 dunia. Kinerja ini diperoleh lantaran adanya masalah struktural dalam hal konektivitas antarmoda transportasi (pelabuhan, bandara, jalur kereta), serta adanya tingkat kemacetan.
Sementara dalam laporan Connecting to Compete-Trade Logistics in The Global Economy yang juga dirilis Bank Dunia, Indonesia masih menghadapi inefisiensi biaya logistik yang tergambar dari mahalnya biaya tersembunyi lantaran durasi pengiriman lebih panjang. Laporan tersebut menemukan bahwa dwell time yang panjang berkaitan dengan pemeriksaan yang berlebihan, proses clearance yang kompleks, serta adanya keterlibatan banyak lembaga dalam proses pengiriman logistik.
Sehingga, dalam konteks Indonesia, luasnya wilayah membuat perjalanan logistik lebih panjang dan berisiko membuat transhipment lebih banyak. Hal ini berdampak pada lebih banyak waktu yang dihabiskan suatu barang untuk sampai ke tangan konsumen dan tersemat biaya tersembunyi di dalamnya.
(dsp/aji)






























