Compang-camping B50, Mesin Ekonomi Lansia dan Masa Jaya Penipuan
Bloomberg Businessweek Indonesia
10 August 2026 10:31

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kebijakan mandatori B50 yang diketok palu sejak 1 Juli dan akan diberlakukan penuh mulai 1 Oktober 2026, menyisakan segudang pekerjaan rumah yang membutuhkan solusi menyeluruh, mencerminkan -untuk kesekian kalinya- kebijakan tergesa dengan kesiapan compang-camping di sana sini. Mimpi kemandirian energi memang perlu didukung, hanya saja ketika konsep yang tak matang dipaksakan kemungkinan hanya akan melahirkan masalah baru yang tak kalah mahal dan justru mengaburkan visi dalam apa yang diklaim sebagai 'mandiri energi' tersebut.
Isu mandatori B50 ini menjadi Sorotan Utama dalam Bloomberg Businessweek Indonesia Edisi Agustus 2026, memaparkan sederet persoalan yang mengiringi kebijakan mandatori B50 dan efek yang hampir pasti akan ditanggung perekonomian cepat atau lambat, mulai dari kalangan petani, sektor industri hortikultura kelapa sawit, sampai ke dapur-dapur rumah tangga. Beban biaya impor solar senilai ratusan triliun yang diharapkan bisa dihapuskan melalui kebijakan tersebut, membuka risiko biaya lain yang tak kalah besar termasuk di dalamnya biaya modal pembuatan B50.
Sebelum ke Sorotan Utama, pembaca bisa menikmati lebih dulu laporan khas Bloomberg Businessweek Indonesia tentang bermekarannya mesin-mesin pertumbuhan baru di balik populasi Indonesia yang mulai menua. Demografi Indonesia saat ini sudah memasuki aging population ditandai dengan proporsi penduduk berusia lanjut di atas 65 tahun yang mencapai lebih dari 10%, lebih tepatnya 12% pada 2025 sebanyak 72,30 juta jiwa. Mesin ekonomi itu lahir dari kemunculan kebutuhan seputar kehidupan lansia dari mulai kehadiran pusat kebugaran usia lanjut, rumah istirahat lansia (senior living) hingga berbagai bentuk bisnis yang menonjolkan peran lansia sebagai daya jual menarik seperti di restoran dengan pelayan lansia.
Namun, di balik kabar baik kemunculan mesin ekonomi baru itu, ada kenyataan pahit bagi penduduk negeri ini di tengah masih belum idealnya sistem jaminan sosial dan dominasi sektor informal dalam perekonomian; masyarakat Indonesia menghadapi risiko tua sebelum kaya sehingga bekerja hingga lanjut usia di negeri ini adalah hal yang nyaris niscaya.
Di rubrik Selasar, pembaca akan bertemu dengan laporan tentang Jakarta Raya yang makin sesak oleh kehadiran pusat data di tengah semakin besarnya kebutuhan masyarakat akan internet yang cepat dan besar. Kehadiran pusat data di tengah kawasan yang sudah padat oleh beban populasi, juga memicu risiko semakin membebani lingkungan mengingat pusat data adalah segmen yang sangat rakus air.































