Logo Bloomberg Technoz

KONSUMSI ENERGI

Tak Cuma Hijau, Listrik Data Center Butuh Garansi Bebas Padam

Sabrina Mulia Rhamadanty
24 September 2026 15:00

Ilustrasi Data Center atau pusat data. (Dok: Bloomberg)
Ilustrasi Data Center atau pusat data. (Dok: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menyatakan narasi mengenai ketersediaan listrik dari energi baru dan terbarukan (EBT) yang murah dan mencukupi bagi kebutuhan industri data center (pusat data) di dalam negeri perlu diperluas. 

Menurutnya, pusat data tidak hanya membutuhkan listrik yang murah, melainkan juga pasokan yang mengalir selama 24 jam non-stop, ramah lingkungan, berkualitas, memiliki sistem cadangan (redundant), serta harga yang dapat terprediksi dalam jangka panjang.

"Listrik adalah salah satu titik kritis data center karena server harus beroperasi 24 jam. Indonesia sebenarnya memiliki kapasitas pembangkitan yang cukup, tetapi tantangannya adalah jaringan transmisi, gardu, dan kecepatan penyambungan," ungkap Heru saat dihubungi Bloomberg Technoz, Kamis (24/9/2026). 


Di samping dorongan untuk memanfaatkan energi terbarukan, regulasi yang dibuat juga harus mampu menjamin keandalan listrik tanpa membebankan biaya infrastruktur secara tidak proporsional kepada masyarakat.

"Investasi di sektor pusat data memang perlu terus didorong tanpa sekadar mengandalkan promosi tarif listrik yang murah dan melimpah. Pasalnya, keandalan dan kualitas listrik yang tinggi merupakan kebutuhan mutlak bagi pusat data," tambahnya. 

Komplek pusat data di Amerika Serikat. dok; Bloomberg