Logo Bloomberg Technoz

OPINI

Tulang Punggung yang Tak Terlihat di Balik Ekonomi Digital

Muhammad Faisal Saihitua
21 September 2026 11:32

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Diolah berbagai sumber)
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Diolah berbagai sumber)
Penulis: Muhammad Faisal Saihitua
Muhammad Faisal Saihitua adalah Direktur EYF Indonesia (Business Consultant & Strategy)


Perekonomian Indonesia sedang bergerak dalam arus digitalisasi yang semakin deras. Interaksi sosial, aktivitas bisnis, hingga transaksi ekonomi kini berlangsung semakin lama semakin banyak di ruang digital. Memang, masih ada 19,34% penduduk Indonesia yang belum terjangkau layanan internet, menurut survei APJII 2025. Namun secara keseluruhan, ekonomi digital nasional telah memasuki fase akselerasi yang sulit dibendung.

Kita bisa merasakannya dalam hal-hal yang sangat sederhana. Ketika berbelanja daring, misalnya, kita cukup membuka aplikasi, mencari barang, memilih produk, lalu membayar secara digital. Semuanya berlangsung dalam hitungan menit, bahkan detik. Begitu mulusnya pengalaman itu, kita sering lupa bahwa di balik satu kali klik terdapat infrastruktur yang sangat kompleks, mahal, dan bekerja tanpa henti.

Saya teringat pada gagasan Mustafa Suleyman, salah satu pendiri DeepMind, dalam bukunya The Coming Wave (2023). Ia melihat bahwa gelombang teknologi berikutnya tidak semata-mata ditentukan oleh aplikasi yang tampil di layar, tetapi juga oleh infrastruktur komputasi raksasa yang bekerja senyap di belakangnya.

Aplikasi, dalam pengertian ini, hanyalah puncak gunung es. Fondasi sesungguhnya justru tersembunyi jauh di bawah permukaan.

Di sinilah data center, atau pusat data, memainkan peran yang semakin penting. Bangunan inilah yang menjadi tempat berbagai data disimpan, diproses, dan dialirkan. Setiap foto yang kita unggah, transaksi yang kita lakukan, hingga pesan yang kita kirim membutuhkan infrastruktur tersebut agar dapat bekerja. Tanpa pusat data, secanggih apa pun sebuah aplikasi, ia pada dasarnya hanyalah cangkang kosong.

Di Indonesia, posisi data center semakin strategis seiring dengan melonjaknya penggunaan layanan digital, komputasi awan, dan kecerdasan buatan. Jika industri konvensional membutuhkan pabrik untuk menghasilkan barang, ekonomi digital membutuhkan pusat data untuk mengolah dan menggerakkan informasi.

Muhammad Faisal Saihitua (Bloomberg Technoz)

Investasi pada Tulang Punggung Ekonomi

Pusat data adalah semacam “pabrik” di era digital. Bedanya, ia tidak mengepulkan asap. Ia mengalirkan data.

Kebutuhan yang terus meningkat tentu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Pasar data center Indonesia diperkirakan bernilai sekitar USD2,81 miliar pada 2025 dan diproyeksikan mencapai USD6,08 miliar pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan majemuk tahunan sekitar 13,7% (Arizton, Januari 2026).

Dari sisi kapasitas, daya terpasang diperkirakan meningkat dari sekitar 500 megawatt (MW) pada 2025 menjadi 900 MW pada 2026. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, kapasitas tersebut masih relatif rendah. Justru di situlah peluangnya: ruang pertumbuhan masih sangat besar.

Jakarta menjadi salah satu episentrum pertumbuhan tersebut. Ibu kota menampung puluhan fasilitas data center, termasuk pusat data hyperscale, sekaligus menarik komitmen investasi dalam skala besar. Salah satunya datang dari Microsoft melalui investasi senilai USD1,7 miliar untuk pengembangan layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan.

Indonesia juga memiliki keunggulan dari sisi biaya. Biaya konstruksi data center diperkirakan berada di kisaran USD8–9 juta per MW. Angka ini relatif kompetitif dibandingkan pusat regional seperti Singapura dan Malaysia yang menghadapi tekanan akibat keterbatasan lahan dan pasokan listrik. Namun, investasi data center tidak berhenti pada pembangunan gedung dan penempatan server. Dampaknya dapat menjalar jauh lebih luas.

Pembangunan fisiknya menyerap tenaga kerja konstruksi. Ketika mulai beroperasi, pusat data membutuhkan energi, jaringan telekomunikasi, tenaga teknis, hingga berbagai layanan pendukung. Di sekelilingnya kemudian tumbuh ekosistem bisnis baru, mulai dari penyedia jaringan dan layanan komputasi awan lokal hingga perusahaan rintisan yang dapat menyewa kapasitas komputasi tanpa harus membangun infrastrukturnya sendiri.

Dengan kata lain, investasi pada infrastruktur digital dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian di sekitarnya.

Aset Diam yang Menghasilkan

Bagi investor, perubahan ini juga menarik. Pusat data tidak lagi sekadar dipandang sebagai fasilitas pendukung operasional perusahaan, tetapi telah berkembang menjadi kelas aset tersendiri.

Analisis Boston Consulting Group (2025) menempatkan infrastruktur digital sebagai salah satu segmen infrastruktur yang paling diminati institusi keuangan global. Dana pensiun, sovereign wealth fund, dan pengelola aset semakin aktif melihat sektor ini sebagai tujuan investasi. Alasannya cukup sederhana, yakni arus kasnya relatif menarik.

Pusat data dapat ditopang kontrak jangka panjang dengan penyewa yang memiliki kualitas kredit tinggi. Kontrak tersebut juga dapat dilengkapi klausul kenaikan tarif secara berkala, sehingga membantu menjaga nilai investasi dari tekanan inflasi.

Model seperti ini bukan sesuatu yang baru di negara maju. Di Amerika Serikat, data center telah lama menjadi bagian dari portofolio Real Estate Investment Trust (REIT). Melalui instrumen tersebut, investor ritel pun dapat memiliki bagian dari aset infrastruktur digital dan memperoleh manfaat ekonominya.

Sepanjang 2024, sekitar USD50 miliar dana mengalir ke sektor data center di Amerika Serikat, meningkat tajam dibandingkan sekitar USD11 miliar pada 2020. Menariknya, perkembangan ini sebenarnya memiliki akar pemikiran yang jauh lebih tua.

Nicholas Negroponte dari MIT Media Lab, melalui bukunya Being Digital (1995), telah menggambarkan pergeseran ekonomi dari “atom” menuju “bit”, dari barang fisik menuju informasi digital. Namun, tiga dekade kemudian, ada sebuah ironi. Di balik triliunan “bit” yang menggerakkan ekonomi modern, tetap dibutuhkan “atom”. Bangunan beton, kabel, mesin, listrik, dan sistem pendingin. Semua itu menjadi wadah fisik yang membuat dunia digital dapat berjalan.

Indonesia berada dalam posisi yang cukup menguntungkan. Populasi digital yang besar, biaya pembangunan yang kompetitif, serta letak geografis yang strategis di jalur kabel bawah laut Asia Tenggara memberikan peluang bagi Indonesia untuk tidak sekadar menjadi konsumen teknologi.

Indonesia berpeluang menjadi tuan rumah bagi aset-aset digital bernilai tinggi. Tetapi peluang tersebut hanya akan terwujud jika tata kelola dan kepastian regulasi mampu memberikan keyakinan kepada para pemodal.

Ketika Server Haus Air dan Listrik

Di balik kemilau investasi tersebut, ada satu persoalan yang tidak boleh disembunyikan, yaitu harga lingkungan. Pusat data adalah mesin yang rakus. Rakus listrik, sekaligus rakus air.

Secara global, konsumsi listrik pusat data diproyeksikan meningkat dari sekitar 415 TWh pada 2024 menjadi hampir 945 TWh pada 2030. Angka tersebut setara dengan sekitar 3% dari total permintaan listrik dunia (IEA, sebagaimana dikutip dalam kajian 2025).

Kebutuhan airnya juga tidak kecil. Sistem pendingin pusat data membutuhkan air dalam jumlah besar. Konsumsi air pusat data secara global diperkirakan mencapai 560 miliar liter pada 2023 dan berpotensi meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030. Di sinilah persoalannya menjadi sangat relevan bagi Jakarta.

Kota yang menjadi salah satu episentrum ekonomi sekaligus basis pusat data nasional itu justru sedang menghadapi persoalan lingkungan yang serius. Jakarta merupakan salah satu kota dengan laju penurunan permukaan tanah tercepat di dunia. Di sebagian wilayah utara, permukaan tanah bahkan dilaporkan turun hingga 12–15 sentimeter per tahun, terutama akibat pengambilan air tanah yang berlebihan.

Maka muncul sebuah paradoks. Kita sedang membangun fondasi ekonomi digital masa depan di sebuah kota yang pada saat bersamaan sedang berjuang mempertahankan fondasi ekologisnya.

Menambah kebutuhan air dan listrik dari pusat data ke kota yang sudah rapuh secara hidrologis bukan sekadar persoalan teknis. Ini adalah persoalan tata kelola pembangunan yang membutuhkan jawaban serius.

Keberlanjutan sebagai Fondasi

Oleh karenanya, prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) tidak boleh berhenti sebagai label untuk menarik dana asing. Dalam konteks data center, ESG harus menjadi bagian dari desain pembangunan itu sendiri.

Pusat data di Jakarta dan sekitarnya perlu didorong, bahkan bila diperlukan diwajibkan, untuk menggunakan teknologi pendinginan yang lebih hemat air, memanfaatkan energi terbarukan, serta melepaskan ketergantungan pada air tanah.

Bagi investor, langkah tersebut juga bukan semata-mata soal kepatuhan terhadap regulasi. Aset yang dikelola secara berkelanjutan justru berpotensi memiliki nilai yang lebih kuat dalam jangka panjang, terutama ketika regulasi terkait karbon dan air semakin ketat.

Keberlanjutan bukanlah musuh profitabilitas. Justru sebaliknya, keberlanjutan dapat menjadi prasyarat bagi profitabilitas yang bertahan lama.

Pada akhirnya, data center adalah cermin tentang bagaimana kita membayangkan masa depan. Ia bekerja dalam diam. Kita jarang melihatnya, tetapi hampir seluruh aktivitas digital kita bergantung kepadanya.

Ekonomi digital menjanjikan pertumbuhan. Investasi menjanjikan kemakmuran. Tetapi keduanya hanya akan bertahan jika dibangun di atas fondasi yang tidak menggerus bumi tempat kita berpijak.

Filsuf Byung-Chul Han pernah mengingatkan tentang kecenderungan manusia di era digital untuk mengagungkan segala sesuatu yang transparan, cepat, dan instan, sementara biaya material di baliknya sering kali luput dari perhatian.

Pesan itu terasa semakin relevan hari ini. Kita menikmati kecepatan sebuah transaksi tanpa melihat listrik yang dibutuhkan untuk memprosesnya. Kita menikmati kecanggihan kecerdasan buatan tanpa selalu memikirkan energi dan air yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Kita menikmati dunia digital tanpa melihat bangunan, kabel, server, dan mesin yang bekerja tanpa henti di belakang layar.

Mungkin, di situlah ukuran kemajuan seharusnya diletakkan. Bukan semata pada seberapa cepat kita membangun, seberapa besar investasi yang masuk, atau seberapa canggih teknologi yang kita kuasai. Melainkan pada seberapa bijak kita menyeimbangkan hasrat untuk tumbuh dengan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Sebab tulang punggung yang tak terlihat sekalipun, jika dibiarkan keropos, pada akhirnya akan meruntuhkan seluruh tubuh yang ditopangnya. Semoga tulang punggung ekonomi digital Indonesia tumbuh kuat, tanpa membuat lingkungan tempat kita berpijak menjadi rapuh.

(mfs)