Dia memaparkan PMI manufaktur di seluruh mitra dagang utama Indonesia pada Juni 2026 terus menunjukkan ekspansi, yang mengindikasikan permintaan eksternal yang sehat.
PMI Tiongkok secara umum stabil di 50,3 (dari 50,5), menunjukkan ekspansi yang moderat. PMI Amerika Serikat (AS) turun menjadi 53,9 (dari 55,1), menunjukkan ekspansi yang berkelanjutan, meskipun dengan laju paling lambat dalam tiga bulan.
Di sisi lain, PMI Jepang naik menjadi 50,1 (dari 49,4), kembali ke ekspansi setelah satu bulan mengalami kontraksi, sementara PMI India menguat menjadi 58,4 (dari 57,6), tetap menjadi yang terkuat di antara ekonomi utama Asia.
Hal ini didukung oleh sentimen yang membaik atas perkembangan geopolitik di Timur Tengah, yang membantu memperkuat aktivitas ekonomi global.
Impor Meningkat
Di sisi lain, Faisal menjelaskan kinerja nilai impor Indonesia diperkirakan terus meningkat pada Juni 2026, di tengah permintaan domestik yang kuat.
"Kami memproyeksikan impor Indonesia akan tumbuh sebesar 28,66% secara tahunan pada Juni 2026, meningkat dari 22,16% secara tahunan pada Mei 2026," papar Faisal.
Harga minyak global diperkirakan lebih rendah, dipicu optimisme atas potensi kesepakatan damai AS-Iran, yang seharusnya mengurangi nilai impor minyak. Namun, impor secara keseluruhan diperkirakan tetap kuat, didukung oleh kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan dan permintaan domestik yang tangguh.
"Selain itu, data perdagangan Tiongkok menunjukkan bahwa ekspornya ke Indonesia meningkat secara signifikan pada Juni 2026, menunjukkan permintaan impor yang berkelanjutan dari Indonesia," sebut Faisal.
"Pandangan kami, kami terus memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar pada tahun 2026," tegas Faisal.
Proyeksi tersebut dipicu oleh impor yang lebih tinggi di bawah agenda pro-pertumbuhan pemerintah. Sementara itu, ekspor lebih lemah, di tengah permintaan global yang lebih rendah akibat ketidakpastian geopolitik dan perang dagang yang sedang berlangsung.
(lav)





























