Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, pelemahan konsumsi tak membuat ekonomi AS kehilangan tenaga. Sebaliknya, investasi swasta justru diproyeksikan melonjak. 

Bloomberg memperkirakan pertumbuhan investasi AS meningkat dari 1,9% pada 2025 menjadi 3,6% pada 2026, naik 1,7 poin persentase. Kemudian pada 2027, investasi diperkirakan kembali naik menjadi 3,9%, sebelum sedikit melambat pada 2028 menjadi 3,7%. 

Jika proyeksi tersebut benar-benar terjadi, maka pertumbuhan ini sejalan dengan gelombang investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI), pembangunan pusat data (data center), industri semikonduktor, energi, serta relokasi manufaktur (reshoring) yang didukung berbagai kebijakan industri pemerintah AS yang cenderung protektif. 

Sementara itu, Bloomberg mencatat bahwa belanja pemerintah mulai berkurang. Pertumbuhan pengeluaran pemerintah diperkirakan turun menjadi 0,8% pada 2026 dari 1,1% di 2025. Kemudian diproyeksikan kembali naik tipis menjadi 1,2% pada 2027 hingga 2028. Berbeda dengan Indonesia, pertumbuhan ekonomi AS semakin bergantung pada sektor swasta, bukan stimulus fiskal pemerintah. 

Dari sisi eksternal, ekspor diperkirakan tumbuh 4,7% pada 2026, melonjak 3,1 poin persentase daripada 2025 yang hanya 1,6%. Meski begitu, ekspor akan kembali melambat menjadi 2,3% pada 2027 dan 2,5% pada 2028.

Sementara, impor juga diperkirakan meningkat menjadi 3,1% daro 2,7%, sebelum kembali melambat ke 2,6% pada 2027, dan 2,5% pada 2028. 

Meskipun pertumbuhan ekonomi AS terlihat relatif stabil, inflasi justru meningkat. Survei Bloomberg memperkirakan inflasi tingkat konseumen (CPI) naik menjadi 3,4% dari 2,7% pada 2025. Setelah itu tekanan inflasi sedikit mereda menjadi 2,4% pada 2027 dan 2,3% pada 2028. 

Jika menilik inflasi yang jadi acuan bank sentral AS yakni Personal Consumption Expenditures (PCE), maka kondisinya sama. Inflasi PCE diperkirakan naik menjadi 3,5% dari sebelumnya 2,6%. Setelah itu turun menjadi 2,4% pada 2027 dan 2,1% pada 2028. 

Sementara itu, inflasi PCE inti yang mengecualikan harga pangan dan energi (inti) diperkirakan meningkat menjadi 3,3% dari 2,8%. Kemudian akan turun menjadi 2,5% pada 2027 dan 2,2% pada 2028.

Kenaikan inflasi inti menjadi gambaran bahwa tekanan harga tak cuma berasal dari energi, tetapi juga sektor jasa, upah, dan permintaan domestik. 

Konsekuensi Bagi Negara Berkembang

Memang ini proyeksi bulan lalu, dan Bloomberg dijadwalkan akan kembali merilis hasil survei ekonomi AS edisi Juli pada hari ini, Jumat (24/7/2026), pukul 17:00 WIB. Namun kemungkinan perubahannya tidak akan signifikan, dan tetap memiliki konsekuensi terhadap negara berkembang 

Pertumbuhan ekonomi AS yang tercatat sekitar 2%, investasi yang cukup solid, dan inflasi yang kembali menghangat membuat bank sentral AS, The Fed, berada dalam posisi sulit.

Di satu sisi, ekonomi tak cukup lemah untuk membutuhkan dorongan stimulus moneter. Di sisi lain, inflasi juga belum cukup rendah untuk mengizinkan adanya pemangkasan FFR secara agresif. 

Alhasil, kebijakan higher for longer tak terhindarkan. Suku bunga acuan AS kemungkinan masih akan bertahan tinggi lebih lama, dibanding yang diharapkan para pelaku pasar. 

Lantas, apa pengaruhnya pada pasar negara berkembang? 

Pertama, imbal hasil (yield) US Treasuty berpotensi tetap tinggi. Ketika obligasi pemerintah AS menawarkan yield menarik dengan risiko rendah, investor tentu saja berduyun-duyun mempertahankan portofolionya di aset dolar. 

Kedua, dolar AS  berpotensi tetap kuat, membuat insentif investor untuk memindahkan dana ke pasar negara berkembang jadi berkurang. 

Ketiga, arus modal asing jadi lebih volatil. Negara berkembang yang memiliki defisit transaksi berjalan atau kebutuhan pembiayaan eksternal besar berpotensi menghadapi tekanan lebih besar karena sikap investor yang makin selektif. 

Keempat, bank sentral negara berkembang kehilangan ruang untuk memangkas suku bunga. Sebab, jika melonggarkan kebijakan terlalu cepat kala The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi, tekanan terhadap nilai tukar mata uang kawasan seperti Asia, misalnya, jadi makin meningkat, yang tercermin lewat pelemahan mata uang domestik dan keluarnya modal asing. 

Dampak Bagi Rupiah

Rupiah tentu saja berpotensi menghadapi tekanan kala dolar AS menguat dan yield US Treasury bertahan tinggi. Kondisi tersebut dapat mendorong Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga di level restriktif lebih lama demi stabilitas nilai tukar dan mengendalikan ekspektasi inflasi.

Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan pelemahan rupiah mencapai puncak pada kuartal III-2026 di sekitar Rp18.000-Rp18.150/US$, dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, tekanan terbesar berasal dari kenaikan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah, permintaan dolar AS sebagai aset aman, serta ekspektasi suku bunga AS yang masih tinggi. 

Rupiah tercatat melemah paling dalam dalam hampir empat pekan karena ketegangan Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mendorong permintaan dolar AS; tekanan juga diperberat oleh kebutuhan pembayaran impor minyak dan jual bersih investor asing di SBN.

Sementara dari sisi domestik, neraca eksternal yang mulai rapuh dan kepercayaan pasar yang belum sepenuhnya pulih. Neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit 1,16 miliar dolar AS, defisit pertama dalam lebih dari enam tahun, karena impor tumbuh 22,16% secara tahunan sementara ekspor melemah.

Impor yang kuat memang mencerminkan aktivitas domestik dan agenda pertumbuhan, tetapi di saat yang sama dapat menaikkan kebutuhan dolar AS, terutama untuk bahan baku, barang modal, dan energi. Pada saat yang sama, arus modal asing belum benar-benar solid karena arus masuk banyak ditopang oleh SRBI, sementara saham masih mencatat arus keluar.

PIER memprediksi pada kuartal IV rupiah berpeluang kembali menguat ke kisaran Rp17.906/US$. Dengan catatan mendapat penopang yang kuat. Pertama, meredanya tekanan global, terutama jika harga minyak turun dan ketegangan Timur Tengah tidak berkembang jadi gangguan pasokan energi yang lebih luas. 

Kedua, rupiah berpeluang ditopang oleh perbaikan sentimen terhadap mata uang Asia pada semester II. Mata uang Asia diperkirakan secara agregat dapat menguat moderat pada paruh kedua 2026, didukung oleh tren dolar AS yang lebih lunak, dan harga energi yang lebih rendah.

Namun, menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), Josua Pardede, pemulihan ini tidak akan merata. "Sehingga, rupiah tetap membutuhkan dukungan fundamental domestik, bukan hanya sentimen regional," kata Josua kepada Bloomberg Technoz

Ketiga, rupiah akan terbantu jika pelaku pasar melihat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap kredibel dengan cadangan devisa yang memadai. 

S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada BBB dengan prospek stabil, dengan pandangan bahwa pelemahan fiskal dan eksternal bersifat sementara serta dapat membaik jika penerimaan negara dan ekspor komoditas pulih.

Selain itu, cadangan devisa Juni naik menjadi US$145,9 miliar dan setara 5,5 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional. Ini memberi ruang bagi BI untuk menahan volatilitas rupiah tanpa harus langsung menaikkan suku bunga lagi.

(dsp/aji)

No more pages