Logo Bloomberg Technoz

Sementara rupiah menjadi mata uang terlemah hari ini terbebani oleh kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal, dengan adanya kenaikan harga minyak yang dapat memperbesar kebutuhan devisa untuk impor dan meningkatkan risiko imported inflation. Pasar kini lebih mencermati kemampuan pemerintah menjaga defisit APBN tetap terkendali di tengah lonjakan harga minyak yang telah jauh melampaui asumsi APBN 2026.

Sedangkan di pasar obligasi domestik, aksi jual diperkirakan masih akan berlanjut akibat adanya aksi jual di pasar US Treasury. Mega Capital Sekuritas (MCS) menilai, aksi jual ini terjadi lantaran dua hal.

Pertama, pengumuman tarif baru oleh Kepala Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menggantikan tarif global sementara 10%. Kedua, meluasnya konflik AS-Iran hingga ke Selat Bab al-Mandab yang ditandai dengan serangan terhadap dua tanker minyak milik Arab Saudi.

"Kami memprediksi yield SUN tenor 10 tahun melanjutkan kenaikan ke rentang 7,35-7,4% hari ini," sebut riset MCS. 

Hari ini, rupiah diperkirakan akan bergerak di rentang Rp17.950/US$ yang merupakan support pertama, dengan target pelemahan kedua harus tertahan di Rp18.000/US$. 

(dsp/aji)

No more pages