Logo Bloomberg Technoz

Konflik antara AS dan Iran kian panas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran dan menyatakan bakal memintai pertanggungjawaban atas setiap serangan susulan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Trump mengatakan kepada Axios bahwa ia sedang mempertimbangkan "serangan masif" dan "makin dekat untuk mengambil keputusan" terkait langkah tersebut.

Bagi rupiah, kondisi eksternal ini dapat mempertajam volatilitas. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya impor bahan bakar bagi Indonesia, terlebih 60% kebutuhan bensin domestik masih dipenuhi melalui impor. 

Saat ini, rata-rata harga minyak sepanjang tahun telah mencapai US$88 per barel, sementara asumsi dasar yang dijadikan acuan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat US$70 per barel. 

Samuel Sekuritas memperkirakan, pembiayaan APBN akan semakin bergantung pada penerbitan ulang (refinancing) utang, baik di pasar domestik maupun internasional. Investor akan menilai apakah pemerintah masih mampu mempertahankan defisit fiskal di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sekaligus mengelola kebutuhan pembiayaan tanpa memicu lonjakan imbal hasil (yield) di pasar Surat Utang Negara (SUN). 

Sebab, di tengah kondisi global yang sedang tidak bersahabat, arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi meningkat. Ini akan membuat mata uang kawasan semakin rentan. 

Meski Bank Indonesia (BI) punya instrumen untuk menjaga stabilitas pasar valas, tetapi ruang kebijakannya kini jadi kian sempit. Sebagai catatan, inflasi domestik telah berada di dekat batas atas target membuat bank sentral diperkirakan akan tetap mempertahankan bias pengetatan. 

Samuel Sekuritas berpendapat, jika pelemahan rupiah semakin tajam, dan semakin memicu tekanan inflasi dari barang impor (imported inflation), maka peluang kenaikan suku bunga acuan akan kembali terbuka. 

Melihat pergerakan rupiah di pasar offshore pagi ini, tekanan terhadap rupiah di pasar spot diperkirakan semakin kuat di rentang Rp17.950 hingga Rp18.020/US$. Tekanan di pasar luar negeri yang kembali menembus Rp18.000/US$ menunjukkan pelaku pasar masih defensif di tengah meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset aman. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal, rupiah berisiko melemah hari ini. Target pelemahan menuju level Rp17.950/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua harus tertahan di Rp18.000/US$.

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 24 Juli 2026 (Sumber: Bloomberg)

Apabila menembus kedua support tersebut dengan volume yang besar, maka rupiah kemungkinan melemah lebih dalam menuju level pesimistis Rp18.100/US$ sebagai support terkuat.

Namun jika rupiah mampu menguat hari ini, maka resistance menarik dicermati ada pada level Rp17.900/US$ dan selanjutnya menuju Rp17.800/US$.

(riset/aji)

No more pages