"Jangan tunggu Badan POM sebagai tukang stempel, libatkan dari awal," ujarnya.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan kerja sama dengan Universitas Tsinghua dipilih karena kampus tersebut memiliki salah satu pakar vaksin terbaik di China sekaligus dunia.
Selain itu, proyek ini mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Sains dan Teknologi China serta melibatkan industri melalui PT Etana.
"Alasan paling utama adalah karena keahlian. Di Tsinghua University ada salah satu ahli vaksin terbaik di China dan juga di dunia. Alasan kedua, saat itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Alasan ketiga yang sangat penting adalah keterlibatan industri melalui Etana agar kebutuhan Indonesia, kepakaran, dan pendanaan bisa berjalan bersama," ujar Stella.
Ia menambahkan pengembangan vaksin tersebut didanai bersama oleh LPDP dan PT Etana. LPDP mengalokasikan dana Rp7 miliar, sementara PT Etana berkontribusi Rp9 miliar, sehingga total investasi penelitian mencapai Rp16 miliar untuk pengembangan prototipe hingga persiapan uji klinis.
Ketua Tim Peneliti, Beti Ernawati Dewi, PhD, dari PT Etana Biotechnologies Indonesia mengatakan pengembangan vaksin saat ini masih berada pada tahap praklinis (pre-clinical trial). Meski demikian, hasil awal menunjukkan respons yang menjanjikan.
"Dari hasil pre-clinical trial yang kita lakukan, titer antibodi untuk menetralisasi virus dengue, terutama serotipe 1, 2, 3, dan 4 strain Indonesia, jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial yang sudah ada di Indonesia," kata Beti.
Menurutnya, tim peneliti menargetkan dalam enam bulan ke depan dapat mulai mengevaluasi efektivitas vaksin pada subjek di Indonesia melalui tahapan berikutnya.
"Harapannya dalam waktu enam bulan ini kita bisa mencoba melihat efikasinya pada subjek yang ada di Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa dengue masih menjadi salah satu penyakit dengan beban kematian yang tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, meski jumlah kasus malaria lebih banyak, angka kematian akibat dengue masih lebih tinggi.
"Dari sisi kematian, paling tinggi TBC 126 ribu, HIV 25 ribu, sedangkan dengue berada di atas malaria. Kematian akibat dengue tercatat sekitar 630 orang per tahun," kata Budi.
(dec)
































