Logo Bloomberg Technoz

Cerita di Balik Data Cadangan Devisa: RI Butuh Pasokan Valas

Redaksi
08 July 2026 06:55

Ilustrasi cadangan devisa (dolar AS). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Ilustrasi cadangan devisa (dolar AS). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Posisi cadangan devisa Indonesia mengalami perbaikan pada Juni menjadi US$145,6 miliar dari US$144,9 miliar pada Mei. Penambahan sebesar US$700 juta atau 0,48% ini menjadi yang pertama sepanjang tahun ini, setelah mengalami penurunan selama lima bulan beruntun, dan menjadi setara dengan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Bank Indonesia (BI) dalam keterangannya kemarin (7/7/2026) menyebut perkembangan cadangan devisa ini dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. 

Samuel Sekuritas dalam catatannya menilai, upaya BI mempertahankan cadangan devisa pada periode tersebut sebagian tertutupi oleh meningkatnya pembiayaan dalam berbagai mata uang, termasuk penerbitan obligasi internasional senilai US$1,5 miliar oleh Danantara serta penerbitan obligasi Samurai dan Blue Bonds senilai US$1,08 miliar.


Senada, Permata Institute for Economic Research (PIER) mencatat sepanjang Juni terdapat arus masuk portofolio sebesar US$5,52 miliar, yang terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) US$1,26 miliar, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) US$3,85 miliar, serta penerbitan obligasi global Danantara US$1,5 miliar yang turut membantu arus valuta asing mengalir ke dalam negeri.

Meski begitu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kenaikan cadangan devisa yang tercatat hanya US$700 juta ini memberi sinyal bahwa di sisi lain masih ada pengurangan cukup besar, terutama pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi BI untuk menjaga rupiah.