Logo Bloomberg Technoz

Special Research

Ujian BI Kala Amerika & Eropa Masih Sibuk Naikkan Bunga

Ruisa Khoiriyah
28 July 2023 15:10

Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Dimas Ardian/Bloomberg)
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kepercayaan diri Bank Indonesia mengakhiri periode pengetatan moneter masih akan menghadapi ujian di tengah-tengah agresivitas bank sentral negara-negara maju yang masih belum sepenuhnya memenangkan perang melawan inflasi.

Sebaliknya, dengan inflasi yang sudah takluk di kisaran target tahun ini dan pertumbuhan ekonomi domestik yang menghadapi tantangan pelemahan laju kredit bank juga kejatuhan kinerja ekspor, MH Thamrin menghadapi tantangan apakah akan terus bertahan di level BI7DRR 5,75% sampai akhir tahun atau bahkan cukup percaya diri memulai siklus pengguntingan bunga acuan demi memberi dukungan pada pertumbuhan ekonomi domestik yang mulai lesu.

Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, sesuai prediksi pelaku pasar, menaikkan bunga acuan 25 bps ke posisi 5,5%. Ketua Fed Jerome Powell menyatakan, langkah lanjutan kebijakan bunga acuan bank sentral paling berpengaruh sejagat itu akan bergantung pada data ekonomi Amerika selanjutnya.

The Fed memiliki waktu delapan pekan sebelum gelar FOMC September nanti, dengan yang terdekat adalah pengumuman inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) nanti malam. Konsensus ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan inflasi PCE inti Amerika pada Juni menurun ke 4,2% dari 4,6% pada Mei.

Jerome Powell, Chairman US Federal Reserve (Bloomberg)

Tadi malam, bank sentral Eropa, European Central Bank (ECB) juga mengambil langkah kenaikan bunga menjadi 3,75%, sesuai prediksi pelaku pasar dunia. Bursa saham Eropa langsung tersulut euforia menyusul pernyataan Christine Lagarde, Presiden ECB, yang menyatakan terbuka peluang mempertahankan bunga pada pertemuan ECB pada September nanti.